10 Alasan Orang Menunda untuk Menikah

10 Alasan Orang Menunda untuk Menikah

 

Beberapa belas tahun lalu ketika saya memutuskan untuk menikah pikiran saya sederhana saja, lulus kuliah, kerja setahun dua tahun, menikah, punya anak sambil bekerja, membesarkan anak dan seterusnya. Mengalir begitu saja tanpa ragu-ragu. Tetapi tentu tidak semua orang berpikiran sama, banyak yang ingin menikah lebih muda tanpa harus bekerja terlebih dulu, tetapi banyak juga yang berencana menikah setelah merasa usia sudah matang, mapan, dan menghasilkan.

Seperti dikutip dari Business Insider, Max Nisen mengemukakan fakta kecenderungan orang menunda untuk menikah dan bahkan kini semakin meningkat. Pada tahun 1950-an wanita Amerika rata-rata menikah pertama kali pada usia 20-21 tahun, dan pria usia 24 tahun. Namun mulai tahun 1960-an hingga sekarang, usia rata-rata wanita dan pria menikah semakin tinggi. Tahun 2010, wanita Amerika rata-rata menikah pertama kali pada usia 27 tahun sementara pria usia 28-29 tahun.

Menurut Max Nisen alasan mereka memutuskan untuk menunda menikah adalah karena,

  1. Hidup bersama tanpa tali pernikahan sudah menjadi hal yang lumrah. Tidak maunya seseorang terikat dalam hubungan pernikahan yang dianggap berisiko adanya ketidakcocokan di masa depan membuat mereka ingin ‘coba-coba’ dulu sebelum masuk ke jenjang pernikahan yang sesungguhnya.
  2. Hidup sendiri dalam jangka waktu lama tampak lebih menarik. Wanita sekarang banyak yang memiliki karir cemerlang, kebutuhan finansial cukup, mampu membeli rumah dan kendaraan sendiri, ditambah dengan kecanggihan teknologi yang memudahkan pekerjaan rumah tangga  membuat seseorang merasa tidak membutuhkan orang lain.
  3. Memiliki anak di luar ikatan perkawinan sudah tidak tabu lagi, sudah umum. Bahkan aborsi anak banyak kita dengar beritanya dimana-mana.
  4. Melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Banyak wanita yang karena tuntutan karir dan pekerjaan, mengharuskan dia untuk tetap eksis salah satu caranya adalah kuliah lagi. Pendidikan tinggi setelah S1 bagi wanita sudah sangat umum. Fokus belajar menjadi alasan wanita yang kuliah untuk tetap single, karena lebih mudah mengatur waktu.
  5. Kecenderungan pernikahan dengan keluarga kecil, tidak memiliki anak banyak, satu atau dua anak saja sudah cukup. Sehingga mereka tidak memiliki alasan untuk menikah di usia muda.

Tentu saja tidak semua alasan di atas berlaku buat para wanita atau pria yang kebetulan hingga kini belum menikah. Umm Zaytun, seorang warga Indonesia yang sudah puluhan tahun tinggal di USA menambahkan alasan orang belum menikah kepada aMuslima yaitu,

  1. Tidak cocoknya usia. Banyak wanita dan pria Muslim di Amerika yang ingin menikah tetapi kesulitan mencari pasangan hidup. Bahkan di  sekitar tempat tinggalnya ada masjid yang menyediakan waktu dan tempat untuk mempertemukan pria dan wanita single agar saling berkenalan, ta’aruf. Namun menurut mereka pria yang datang ke pertemuan itu usianya 20 tahun lebih tua dari mereka, dan pria-pria itu kebetulan ingin mencari pasangan hidup yang usianya masih 20-an tahun.
  2. Ketidakcocokan profesi/latar belakang pendidikan. Kebanyakan para wanita yang masih single itu berpendidikan tinggi sementara lelaki yang ingin mencari istri pekerjaannya tidak sesuai dengan yang diharapkan.
  3. Alasan ketidaksamaan suku atau faktor etnis menjadi dasar mereka belum menemukan jodoh. Muslim merupakan warga minoritas di USA, untuk mendapatkan jodoh dengan warga negara atau suku yang sama tentu tidak mudah. Banyak orang tua yang menginginkan menantu dengan keturunan yang sama, sehingga ruang mereka untuk mencari jodoh menjadi semakin terbatas.
  4. Tidak mau mengambil risiko salah dalam memilih. Semakin bertambah usia seseorang biasanya semakin banyak pertimbangan. Latar belakang keluarga yang tidak harmonis bisa juga menjadi penghambat seseorang untuk menunda pernikahan atau bahkan tidak ingin menikah sama sekali karena takut berpisah seperti kedua orang tuanya.
  5. Kehidupan modern yang sudah semakin jauh dari kehidupan Islami. Jaman sekarang karena alasan tidak ingin mengambil risiko gagal dalam pernikahan, banyak yang memutuskan untuk tidak mau menikah. Bahkan menggampangkan dengan cara hidup bersama tanpa harus menikah. Apalagi sekarang, jenis kelamin sudah tidak penting lagi, lelaki menikah dengan sesama lelaki, perempuan dengan sesama perempuan, lelaki sudah menjadi perempuan dan perempuan sudah menjadi lelaki atau istilah populernya LGBT (Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender) sudah menjadi hal yang biasa dan bahkan dilegalkan! Na’udzubillaahi min dzalik.

Fitrah manusia untuk memiliki pasangan hidup dan keturunan sebagai penerus kehidupan rasanya sudah menjadi hal yang tidak penting. Padahal Islam menganjurkan umatNya untuk menikah, karena dengan menikah manusia dapat menundukkan pandangan, terhindar dari keinginan berzina yang muncul karena kebutuhan biologisnya tidak terpenuhi, umat Islam menjadi semakin banyak jumlahnya karena pernikahan yang sah dan diharapkan terbentuk umat yang dapat menyiarkan agama Islam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyediakan pasangan hidup bagi setiap manusia. Seperti yang tersebut dalam ayat Al-Quran:

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” (QS. Ar Rum: 21).

Jadi seharusnya dengan menikah hidup kita menjadi lebih tenteram, saling mengisi, saling berbagi, bukan sebaliknya.

Lalu bagaimana bila niat menikah sudah ada namun tidak kunjung juga menemukan pasangan yang cocok? Tetaplah berusaha mencari, banyak berkumpul dengan orang-orang sholeh, ikut dalam kegiatan-kegiatan positif, dan tidak lupa selalu berdoa kepada Allah, agar Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa mendekatkan jodoh yang terbaik buat kita. In syaa Allah permohonan kita akan terkabul dan yang penting tetap optimis bahwa suatu saat pasangan yang tepat dan terbaik akan datang. Aamiin yra.

Delina Partadiredja

Menulis sudah menjadi bagian hidupnya sejak masih duduk di bangku SD. Mulai SMA, Delina aktif menyumbangkan tulisannya di majalah sekolah dan majalah dinding. Setelah lulus SMA, Delina melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM Yogyakarta, kemudian MBA Finance di University of Leicester. Dunia jurnalistik dipelajari secara otodidak dan langsung terjun membuat tabloid saat masih kuliah berkolaborasi dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Delina sempat aktif menulis di Eramuslim.com, beberapa buku antologi telah diterbitkan seperti Menembus Batas Logika (eramuslim), Sedekah Senyum (bersama dengan Asma Nadia dan diterbitkan oleh Republika), dan the Muslimah Speaks (Mindswork Publishing). Kini Delina tinggal di Saudi Arabia. Bersama partnernya Gemi Hartojo dan didukung oleh para penulis yang berasal dari banyak negara membesarkan amuslima.com versi Bahasa Inggris serta indo.amuslima.com. Email: delina@amuslima.com FB: Delina Partadiredja Twitter: DelinaDelina Linkedln: Delina Partadiredja Skype: Delina Partadiredja

Related Posts