6 Kelemahan yang Harus Diantisipasi Orang Tua (Islamic Parenting Bagian 3)

6 Kelemahan yang Harus Diantisipasi Orang Tua (Islamic Parenting Bagian 3)

Melanjutkan kajian tentang Islamic Parenting beberapa waktu lalu di aMuslima, Kak Nasyir, pendongeng asal Solo serta Ustadz Abdul Qadir Aka, da’i dari Jakarta menyebutkan, bahwa ada 6 kelemahan yang harus diantisipasi oleh kita sebagai orang tua dalam mendidik anak, yaitu :

Para peserta kajian Islamic Parenting di Pondok Pesantren Al-Islam

1. Lemah harta
Ciri utamanya adalah anak lebih banyak meminta daripada memberi. Sehingga menyebabkan ketergantungan anak pada orang tua tinggi. Hal ini berbahaya jika tidak segera diatasi. Solusinya adalah kisahkan pada anak-anak bagaimana tentang Nabi Muhammad di masa kecil yang begitu mandiri dalam mencukupi hidupnya. Latih anak-anak untuk mandiri dan survive kenalkan tentang proses bukan hasil.

Sekalipun memang kita sebagai orangtua juga berusaha memenuhi kebutuhan anak, kebutuhan yang memang sangat diperlukan. Agar jangan sampai terjadi anak yang ingin mendapatkan sesuatu akhirnya harus mencuri. Namun tidak berarti anak harus terus bergantung pada orangtua. Anak juga perlu dilatih untuk mandiri.

2. Lemah fikiran
Ciri utamanya adalah anak mudah patah semangat, mudah marah, mudah tersinggung, saat dinasehati, diingatkan, ditegur. Artinya, anak memiliki pikiran yang sempit/picik. Kalau anak-anak kita mengalami hal seperti ini hati-hati. Jika dibiasakan seperti ini dia akan menjadi pemuda pemarah, gampang putus asa. Hal ini sangat berbahaya karena anak akan mudah terpengaruh oleh hal-hal negatif. Maka solusinya apa? Yuk kita lihat ke sosok orang luar biasa, nabi kita Muhammad SAW. Teladani ke sejarah masa kecilnya Rasulullah juga sejarah masa kecilnya Ali bin Abi Tholib. Yang dapat menjadi teladan dan figur bagi mereka tentang kesabaran dan ketabahannya dalam menghadapi ujian hidup.

3. Lemah fisik
Ciri utamanya adalah anak-anak mudah sekali terserang sakit atau penyakit. Hindarkan makanan junkfood, dan kembali ke makanan tradisional. Terlalu sering mengkonsumsi makanan yang serba instant, dapat juga mengakibatkan lemah fikiran. Karena pada umumnya makanan serba instant mengandung zat-zat yang kurang baik diserap oleh tubuh.

Kontrol pula penggunaan media tehnologi. Seperti gadget atau smartphone karena sangat berpengaruh dalam tumbuh kembang anak. Saat ini dikenal istilah nomopobhia, sebuah kecenderungan akan ketergantungan pada gadget. Jika penggunaan gadget tidak dibatasi dan diawasi, maka dikhawatirkan akan banyak efek sampingnya, misalnya, sakit mata, sakit tangan, malas bergerak, dan lain-lain. Yang menyebabkan fisik menjadi lemah.

4. Lemah ilmu
Cirinya anak lebih suka bermain dari pada belajar. Ilmu dirasa tidak dibutuhkan. Seperti misalnya, anak-anak susah diajak belajar dan mengaji, faktor lingkungan juga banyak mempengaruhi. Sebagai orang tua kita perlu waspada jangan sampai anak-anak jadi lemah ilmu, dalam arti miskin ilmu, hingga anak nantinya akan mudah terperosok dalam hal-hal yang tidak baik. Solusinya, kenalkan manfaat praktis dari ilmu yg dipelajari.

5. Lemah hatinya
Berbicara tentang hati adalah berbicara tentang perasaan, tentang cinta dan kasih sayang. Anak yang lemah hatinya artinya ia mulai cenderung meninggalkan kecintaannya kepada agama yang mengajarkan tentang kasih sayang yang sesuai dengan syariat.
Contoh nyata sekarang ini, masih banyak anak-anak yang lebih suka ke mall dari pada ke masjid. Lebih suka nonton tv dari pada mengaji. Lebih suka main game dari pada mengkaji ilmu.

Solusinya seperti apa? Biasakan anak-anak untuk ke masjid sedini mungkin. Kenalkan Al-Quran sedini mungkin. Agar kecintaannya kepada agama (Tuhannya) senantiasa terpupuk sedari kecil.

6. Lemah moral
Contoh konkritnya di antaranya adalah, anak dewasa sebelum waktunya. Hubungan lawan jenis yang kelewat batas. Pergaulan bebas. Jangan sampai anak-anak kita mengalami dekadensi moral.

Sebab di masa sekarang ini sangat diperlukan membekali anak dengan akhlaq yang baik. Solusinya, kenalkan syariat Islam sedini mungkin. Pilih dan kenalkan lingkungan yang baik untuk anak-anak kita. Pendidikan agama yang berkualitas. Membentengi dengan moral atau etika yang santun dan tangguh. Agar nantinya anak kita tidak mudah terpengaruh oleh pergaulan-pergaulan yang salah yang dapat merusak moral anak-anak kita nantinya.

Itulah point-point penting yang dapat disimpulkan dari kedua nara sumber pada acara Kajian Islamic Parenting.

Kak Nasyir bersama para ustadz Ponpes Al-Islam, Purbawinangun, Cirebon

Di akhir acara, diadakan evaluasi dari materi yang telah disampaikan. Sejumlah ibu-ibu yang dapat menjawab pertanyaannya diberikan hadiah. Begitu juga dengan peserta yang mengajukan pertanyaan berbobot, serta bagi orangtua yang memiliki anak terbanyak dan berprestasi. Pemberian apresiasi juga dilakukan.

Dengan demikian, berakhirlah serangkaian acara Kajian Islamic Parenting di hari acara Dongeng Santri.
Semoga ilmu yang telah disampaikan dapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin..

Maymunah MNC

Penulis adalah lulusan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, jurusan Tafsir Hadits. Kecintaannya pada dunia anak digelutinya dengan mengajar anak-anak sekitar rumahnya sejak ia masih Tsanawiyah, atau setingkat dengan SMP. Saat kuliah ia sempat mengajar di sebuah Tsanawiyah. Kini Maymunah tinggal di Jeddah, Saudi Arabia. Sempat menulis untuk Buletin Duta Bangsa yang diterbitkan masyarakat Indonesia di Saudi Arabia. Dalam sebuah kajian bertajuk: Iqra, Keummian Rasulullah, Serta Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Luas. Kumpulan puisinya terangkum dalam buku koleksi pribadinya, Ku Ingin Menciummu. Saat ini bersama anak-anak didiknya yang ia beri nama Rabbbani Education Foundation tengah melakukan kegiatan menulis bersama, di sela-sela kegiatan belajar mengajar. Walau tinggal jauh dari tanah airnya, Maymunah bersama dengan keluarga besarnya tetap ingin menebar manfaat dengan mendirikan sebuah Pondok Pesantren di daerah Cirebon, dengan mengutamakan anak-anak yatim dan yang kurang mampu agar tetap dapat menuntut ilmu.

Related Posts