Aksi Peduli Muslim Rohingya Di Acara Dongeng Santri (Bagian 1)

Aksi Peduli Muslim Rohingya Di Acara Dongeng Santri (Bagian 1)

Pondok Pesantren Al-Islam kembali menggelar acara Dongeng Santri yang kedua. Setelah sukses di acara Dongeng Santri yang pertama, dengan jumlah peserta sebanyak 700 siswa dan siswi sekolah/madrasah yang diadakan di halaman pondok pesantren kala itu.

Suasana acara Dongeng Santri di lapangan desa Purbawinangun, Cirebon

Namun untuk tahun ini, yang bertepatan pula dengan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 H. Acara Dongeng Santri diadakan di sebuah lapangan desa Purbawinangun, kecamatan Plumbon, Cirebon. Persiapan yang dilakukan cukup singkat hanya sekitar 1 bulan dan aksi penyebaran brosur dan undangan serta persiapan-persiapan lainnya  dilakukan setelah Idul Adha, tepatnya setelah acara Qurban di pondok selesai.

Kepala Desa Purbawinangun, Bapak Rusmana tengah membuka acara Dongeng Santri

Alhamdulillah kegiatan ini mendapat tanggapan yang sangat positif dari Bapak Kuwu (Kepala Desa) Purbawinangun, yaitu Bapak Rusmana. Beliau juga berkesempatan hadir dan membuka acara Dongeng Santri yang dihadiri tidak kurang dari 20 sekolah/madrasah dengan siswa dan siswi yang didampingi para guru perwakilan dari sekolah/madrasah yang sudah mendaftar serta sejumlah wali murid. Diperkirakan peserta yang hadir saat itu sekitar 1.500 peserta.
Selain itu hadir pula Ustadz Awaludin, Lebe Purbawinangun; Bapak Wiya, ketua DKM Manbaul Huda; serta Bapak Mulyono tokoh masyarakat dan agama, dan Ustadz Abdul Qadir Aka dari Jakarta.

“Siapa yang mau hadiah? Ayo kumpul!” Ajakan ustadz Ayat menarik perhatian anak-anak

Ustadz Ayatullah selaku Pengasuh Pondok Pesantren Al-Islam dalam sambutannya juga menyampaikan rasa syukur dan ucapan terimakasih yang tak terhingga kepada segenap jajaran ustadz dan ustadzah, para pejabat desa, perangkat desa, masyarakat sekitar, para undangan dan juga para donatur yang telah banyak membantu sehingga acara ini dapat terselenggara dengan baik.

Ada yang rela berjalan kaki, ada yang berkostum unik dan rapih. Pemberian hadiah untuk kategori tertentu. Hingga doorprize sepeda anak

Acara kian semarak karena Ustadz Farid, selaku ketua panitia juga telah menyiapkan beragam hadiah yang disediakan untuk sekolah/madrasah dengan beberapa kategori yang telah ditentukan oleh panitia, seperti peserta dengan kostum paling unik dan menarik, paling rapi, terbanyak, terjauh, dan sebagainya. Serta adanya doorprize yang membuat anak-anak semakin tertarik mengikuti acara ini. Mulai dari perlengkapan sekolah, hingga sepeda anak.

Performance anak-anak dari beberapa sekolah/madrasah di atas pentas

Beberapa sekolah memberikan penampilan terbaiknya di atas pentas. Seperti murattal quran, asmaul husna, hadrah & qasidah, rencong, tari melayu, ceramah, dan lain-lain. Ya, ajang ini juga menjadi ajang silaturrahim sekolah-sekolah berbasis Islam sekecamatan Plumbon dan sekitarnya. Inilah salah satu tujuan diadakannya Acara Dongeng Santri, demikian ujar Ustadz Ayatullah.

Kak Nasyir dengan pembawaanya yang menyenangkan mampu menghipnotis anak-anak dengan dongengnya

Dengan diselingi pembagian doorprize, anak-anak jadi tetap semangat untuk terus bertahan. Apalagi saat kak Nasyir mulai tampil, anak-anak semakin antusias mengikuti acara tersebut. Dengan pembawaannya yang lucu, serta bahasa yang sederhana dan mudah dimengerti anak-anak, kak Nasyir berhasil menghipnotis dan memukau anak-anak dengan gayanya. Tema yang disampaikan pun cukup mengena yaitu tentang Anak Shaleh VS Anak Salah. Tak hanya anak-anak yang ikut terhanyut dalam ceritanya, tapi orang tua pun turut menikmatinya.

Penampilan anak-anak Ponpes Al-Islam dengan tema membela saudara muslim yang tertindas.

Acara berlanjut dengan penampilan pamungkas dari santri-santri Ponpes Al-Islam. Sebuah drama singkat dengan tema membela saudara muslim yang tertindas terutama muslim di Rohingya, Myanmar. Berawal dari kisah seorang muslim yang disiksa oleh kaum penindas, para pejuang pembela kebenaran berusaha menyelamatkannya dengan pekik takbir yang disuarakan anak-anak santri sambil berlari di antara para pengunjung menuju ke atas pentas. Selanjutnya mereka menolong dan membebaskan kaum yang tertindas itu. Di bawah bimbingan ustadz Ihsan, drama itu terasa hidup, diselingi puisi yang menyentuh hati.

Lalu di akhir pementasannya, santri-santri Al-Islam mulai menyebar dengan membawa kardus kotak bergambar anak-anak Rohingya yang tertindas. Diiringi suara Ustadz Farid yang menyeru pada kebaikan, dan mengetuk pintu hati kepedulian kita dengan suara yang menggema dan berurai airmata. Jika kita tidak mampu menolong mereka dengan kekuatan dan tenaga, maka bantulah sebisa kita, menolong mereka dengan sedikit harta yang kita punya.

Kerongkongan terasa tercekat, dada terasa sesak, dan kami pun larut dalam kesedihan merasakan kepedihan mereka di Rohingya, yang tak bisa merasakan kebahagiaan berkumpul seperti kami di sini.

Lantas, tangan-tangan kecil itu terjulur memasukkan infaq terbaik mereka. Bapak-bapak dan ibu-ibu masih dengan uraian airmata berusaha menyisihkan sedikit harta yang mereka punya, untuk saudara-saudara kita di Rohingya. Subhanallaah.. Allahu Akbar!

Penyerahan donasi dalam Aksi Peduli Muslim Rohingya

Alhamdulillah, donasi yang terkumpul dalam Aksi Peduli Muslim Rohingya di Acara Dongeng Santri berjumlah sekitar Rp. 4.141.000. Donasi ini akan diserahkan melalui HILMI (Hilal Merah Indonesia) via Ustadz Abdul Qadir Aka, yang sekaligus menutup acara Dongeng Santri tersebut dengan Doa.

Maka berakhirlah Acara Dongeng Santri yang telah terselenggara dengan baik dan memberikan kesan yang sangat mendalam. Mempelopori kegiatan silaturrahim antar sekolah/madrasah sekecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon,  Jawa Barat. Semoga kedepannya acara ini dapat terus berlangsung dan semakin banyak anak-anak shaleh yang berprestasi dan bisa kita apresiasi.

Maymunah MNC

Penulis adalah lulusan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, jurusan Tafsir Hadits. Kecintaannya pada dunia anak digelutinya dengan mengajar anak-anak sekitar rumahnya sejak ia masih Tsanawiyah, atau setingkat dengan SMP. Saat kuliah ia sempat mengajar di sebuah Tsanawiyah. Kini Maymunah tinggal di Jeddah, Saudi Arabia. Sempat menulis untuk Buletin Duta Bangsa yang diterbitkan masyarakat Indonesia di Saudi Arabia. Dalam sebuah kajian bertajuk: Iqra, Keummian Rasulullah, Serta Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Luas. Kumpulan puisinya terangkum dalam buku koleksi pribadinya, Ku Ingin Menciummu. Saat ini bersama anak-anak didiknya yang ia beri nama Rabbbani Education Foundation tengah melakukan kegiatan menulis bersama, di sela-sela kegiatan belajar mengajar. Walau tinggal jauh dari tanah airnya, Maymunah bersama dengan keluarga besarnya tetap ingin menebar manfaat dengan mendirikan sebuah Pondok Pesantren di daerah Cirebon, dengan mengutamakan anak-anak yatim dan yang kurang mampu agar tetap dapat menuntut ilmu.

Comments ( 2 )
  1. Iyang
    September 30, 2017 at 5:37 am

    Maju terus anak anak santri

    • Maymunah MNC
      September 30, 2017 at 5:53 am

      Na’am ustadz, semangaaat..

Related Posts