AlFalah Sekolah Harapan Anak Para Pemulung (2)

AlFalah Sekolah Harapan Anak Para Pemulung (2)

Sebelumnya aMuslima sudah menulis tentang Sekolah AlFalah yang berlokasi di Bantar Gebang, Bekasi. Apa latar belakang Ibu Sari, founder Sekolah AlFalah ketika awal berdirinya sekolah gratis bagi fakir miskin ini. Berikut lanjutan percakapan aMuslima dengan Ibu Wulan Sari.

aMuslima: Kendala-kendala apa yang dihadapi saat mendirikan sekolah hingga saat ini?

Sari: Kendala pertama adalah merekrut guru. Karena aku tak mungkin datang setiap hari ke Bantar Gebang. Harus ada seseorang yang membantuku untuk mengajar. Maka aku mencoba merekrut guru. Ada 2 calon guru yang menyerah kalah karena tak tahan dengan baunya. Mereka pusing-pusing dan muntah-muntah. Hingga akhirnya aku merekrut seorang ibu rumah tangga yang memiliki passion mengajar. Alhamdulillah akhirnya ada 1 guru yang sanggup membantuku mengajar anak-anak itu.

Kendala berikutnya adalah gangguan-gangguan serta intimidasi dari beberapa pihak. Yang mengira bahwa apa yang kulakukan adalah modus semata untuk mencari uang dengan mengexploitasi anak-anak pemulung itu. Tak jarang aku dipalak uang oleh oknum tak bertanggungjawab. Terkait intimidasi moril dan materiil seperti ini rasanya sudah ‘lazim‘ terjadi dimana kami tidak kuasa untuk mendobrak ketidak adilan yang semakin sistemik ini.

Kendala yang terkait dengan proses belajar mengajar tentu wajar terjadi mengingat latar belakang anak-anak ini. Di awal-awal, mereka sangat tidak paham dengan makna ‘membuang sampah pada tempatnya‘ karena lingkungan mereka hidup sehari-hari adalah sampah raksasa. Sehingga dibutuhkan waktu setahun lebih untuk membiasakan mereka ‘membuang sampah di tong sampah‘. Ketika awal mereka datang, mereka teramat liar dan belum mengenal kebersihan. Sehingga di sekolah lah aku ajarkan tentang menggosok gigi, potong kuku, cuci rambut, mandi teratur. Dan tak lupa kuajarkan tentang Thaharah atau bersuci dalam syariat Islam.

Kendala finansial bagi saya bukan suatu hal yang amat menguras kekhawatiran dan kegusaran saya. Karena Alhamdulillah Allah lah yang Maha Mencukupi untuk kebutuhan sekolah ini. Meski di luar kebutuhan gaji guru, administrasi, makanan gizi siswa, maintenance…ternyata aku harus memikirkan kebutuhan emergency yang tak terduga. Seperti di kala terjadi wabah Demam Berdarah, kecelakaan, kematian, maupun musibah lain seperti terjadinya pencurian besar-besaran. Namun saya yakin Allah lah yang Maha Mencukupi.

aMuslima: Bagaimana dengan biaya operasional sekolah?

Sari: Di awal pendirian pada tahun 2007, operasional sekolah 100 % aku cukupi dari uang pribadi. Aku menyisihkan dari uang belanja. Kadang-kadang aku menerima titipan susu dan peralatan tulis sumbangan dari teman-temanku.

Hingga pada tahun berikutnya, ada beberapa sahabat yang menitipkan uang untuk membantuku mencukupi operasional sekolah. Aku berprinsip, tidak mau meminta-minta. Jika ada yang titip, ya aku tasarufkan. Jika tidak, ya aku harus lebih menghemat uang belanja dan meski harus hutang ke sana sini untuk mencukupi kebutuhan sekolah.

Alhamdulillah setelah beberapa tahun, mulailah banyak teman, sahabat, maupun para dermawan yang mendengar tentang sekolahku ini. Alhamdulillah Allah kirimkan rizki yang bertubi-tubi melalui para dermawan ini hingga akhirnya AlFalah bisa memiliki tanah dan bangunan sekolah yang permanen, sangat layak sebagai sebuah sekolah yang membanggakan mereka.

Hingga kini. Kami menerima titipan zakat, infaq dan shadaqah dari siapapun untuk membantu biaya operasional sekolah. Ada yang memberi rutin, ada pula yang kadang-kadang. Semua ini kami simpan baik-baik dan digunakan secara amanah untuk kebutuhan sekolah. Menggaji belasan guru / karyawan, makanan bergizi siswa, administrasi, iuran, biaya-biaya lainnya.

aMuslima: Sekolah ini kan sekolah resmi, lalu kurikulum apa yang digunakan sekolah AlFalah?

Sari: Sekolah AlFalah adalah sekolah non formal yang resmi terdaftar di Diknas sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau PKBM. Atau yang lazim disebut dengan Paket A, Paket B dan Paket C.
Kenapa aku memilih PKBM sebagai jalur lembaga pendidikan yang kudirikan? Karena segmennya adalah anak-anak pemulung yang cenderung keluar masuk mengikuti orangtuanya yang kadang-kadang pulang kampung berbulan-bulan lalu masuk kembali dan memohon untuk bisa bersekolah lagi.

Kurikulum yang kami gunakan sama seperti PKBM yang lain. Kurikulum yang mengacu ke Diknas dengan mata pelajaran dasar yang diujikan pada Ujian Nasional. PKBM AlFalah sudah resmi terdaftar dan memiliki hak untuk mencantumkan nama lembaga di ijazah siswa. Ijazah ini resmi dan bisa digunakan untuk melanjutkan sekolah di jenjang universitas .

Untuk PKBM AlFalah, kami tambahkan muatan agama dan penekanan life skill untuk siswa Paket C atau setara SMA. Mata pelajaran sama persis dengan sekolah formal lainnya. Bahkan ada mata pelajaran dan praktek wirausaha untuk siswa Paket C atau setara SMA. Untuk ekstra kurikuler, kami ajarkan Bahasa Jepang yang diajarkan oleh volunteer alumni mahasiswa Jepang . Ada Futsal, ternak lele, writing dan English.

aMuslima: terakhir, apa harapan ibu Sari untuk sekolah ini?

Sari: Bila berbicara tentang harapan dan sebuah mimpi, sebenarnya saya mendirikan sekolah ini bukan sekedar sebagai lembaga pendidikan yang memberikan pengajaran dan transfer ilmu lalu mengeluarkan secarik kertas yang bernama ijazah yang bertuliskan angka dan deskripsi akademik. Bagi saya, sekolah ini adalah embrio untuk melakukan peran sebagai agent of change untuk lingkungan di sana.

Sekolah AlFalah kini

Sekolah AlFalah kini

Kami juga melakukan peran dakwah di sana dengan mengadakan taklim untuk ibu-ibu pemulung secara rutin. Aku juga kirimkan buku-buku untuk guru-guru dan para ibu-ibu peserta taklim tersebut. Penyuluhan, bimbingan, dakwah, home visit, personal approach, serta ikhtiarku untuk terjun mengulurkan tangan ketika terjadi emergency dan ada umat yang membutuhkan uluran tangan.

Kondisi kaum marginal tentunya lekat dengan kefakiran iman, ilmu dan harta.
Mengubah kondisi itu tentulah melalui proses teramat panjang dan tidak bisa sim salabim hanya dengan satu tangan saja. Maka aku memilih, memutus rantai kebodohan…rantai kejahilan, dengan jalan pendidikan yang comprehensive.

Dengan memberikan pendidikan ilmu dunia dan ilmu akherat di sekolah, aku berharap anak-anak disana tumbuh menjadi anak-anak yang bernas yang kelak sanggup menjelajah dunia dengan bekal iman dan ilmu yang kokoh. Mengejar masa depan dunia sebagai kendaraan menuju masa depan abadi mereka di syurga. In syaa Allah.

Delina Partadiredja

Menulis sudah menjadi bagian hidupnya sejak masih duduk di bangku SD. Mulai SMA, Delina aktif menyumbangkan tulisannya di majalah sekolah dan majalah dinding. Setelah lulus SMA, Delina melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM Yogyakarta, kemudian MBA Finance di University of Leicester. Dunia jurnalistik dipelajari secara otodidak dan langsung terjun membuat tabloid saat masih kuliah berkolaborasi dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Delina sempat aktif menulis di Eramuslim.com, beberapa buku antologi telah diterbitkan seperti Menembus Batas Logika (eramuslim), Sedekah Senyum (bersama dengan Asma Nadia dan diterbitkan oleh Republika), dan the Muslimah Speaks (Mindswork Publishing). Kini Delina tinggal di Saudi Arabia. Bersama partnernya Gemi Hartojo dan didukung oleh para penulis yang berasal dari banyak negara membesarkan amuslima.com versi Bahasa Inggris serta indo.amuslima.com. Email: delina@amuslima.com FB: Delina Partadiredja Twitter: DelinaDelina Linkedln: Delina Partadiredja Skype: Delina Partadiredja

Comment ( 1 )
  1. Maymunah mnc
    October 26, 2016 at 5:02 am

    Subhanallah.. Amazing.. Kereen.. Hebat.. Salut!!!
    Membaca tulisan ini sampai merinding dan bercucuran aIrmata. Apresiasi yang setinggi-tingginya kepada ibu wulan sari. Semoga Allah senantiasa memberikan berkah, karunia dan RidhoNya kepada Ibu, juga kepada seluruh anak-anak tercinta, semoga mereka bisa mewujudkan mimpi indah mereka.. Aamiin..

Related Posts