Bagaimana Qurban di Saudi Arabia?

Bagaimana Qurban di Saudi Arabia?

Biasanya saya paling enggan menyaksikan penyembelihan Qurban karena tidak tahan melihat binatang yang disembelih, bercak darah, dan bau amisnya. Tapi pagi itu tanggal 13 Dzulhijjah, saya harus menemani tamu Indonesia dan suami untuk meninjau proyek penyembelihan Qurban di Mekkah, Saudi Arabia. Proyek yang dikenal dengan nama Adahi ini sudah terbentuk sejak 1403 H atau tahun 1983. Proyek non profit ini diawasi  langsung oleh sejumlah instansi pemerintah Saudi seperti kementerian Dalam Negeri, Keuangan, Kehakiman, dan beberapa kementerian terkait di kota suci Mekkah, serta Bank Pembangunan Islam (IDB) yang berdomisili di Jeddah.

Baliho di depan pintu masuk

Untuk menjangkau lokasi penyembelihan yang berada di 4th Ring Road Mekkah ini tidak semudah yang terbaca di peta. Banyaknya jalan-jalan yang ditutup karena masih banyak jama’ah yang menjalankan ibadah haji (lempar jumroh terakhir) membuat kami harus menghabiskan waktu lebih dari 1 jam untuk mencari lokasinya. Akhirnya kami pun menyerah, memanggil taksi omprengan  (tapi mobilnya sedan Lexus hehe..) yang dikendarai pemuda setempat untuk memandu kami mencari lokasi penyembelihan Qurban, apalagi dia bilang dia tahu jalan-jalan yang tidak ditutup. Kira-kira 20 menit kemudian tibalah kami di lokasi proyek yang sangat luas yang terdiri dari beberapa gedung dan apartemen.

Area penyembelihan terbagi menjadi beberapa gedung yang dicat biru, kuning, merah, dan hijau sebagai area penyembelihan, serta gedung kantor dan penginapan para petugas maupun pengawas Adahi. Hari itu adalah hari terakhir penyembelihan, dan kami mengunjungi gedung penyembelihan berwarna hijau yang khusus untuk menyembelih kambing. Sementara gedung lain ada yang untuk menyembelih sapi…..untung saja saya tidak perlu ke sana.

Berada di antara sembelihan kambing

Saya melihat, meskipun sudah hari ke-4 penyembelihan, namun area tetap terjaga kebersihannya padahal ada 1,9 juta hewan Qurban yang harus disembelih. Kambing-kambing hidup berada di ruang sebelah sambil menunggu ‘antrean’ untuk disembelih. Cara menggiring kambing ke ruang penyembelihan pun ada tekniknya sendiri dan para petugas harus ditraining terlebih dahulu. Saya melihat kedua kaki kambing diangkat dan diajak jalan menuju ke penyembelihan. Kambing dibaringkan dan sambil mengucap Bismillahirrohmanirrohim serta Laa Ilaa ha Illallah kambing pun cepat tersembelih.

Apartemen tempat para pengawas dan petugas menginap

Tidak kurang dari 40 ribu karyawan yang bekerja di proyek tersebut. Sebagian pengawas menginap di apartemen yang sudah disediakan. Mereka tinggal selama beberapa hari, khususnya tanggal 10 hingga 13 Dzulhijjah mereka tinggal di lokasi. Mereka pun bisa mengikuti ibadah haji gratis bila datang tanggal 8 Dzulhijjah tentunya. Setelah hewan Qurban disembelih, kambing digantung dan dikuliti, dibersihkan, kemudian dipotong-potong dan dimasukkan ke dalam kantong plastik besar. Daging Qurban dan Dam jama’ah haji dibagikan kepada fakir miskin di tanah Haram, sementara kelebihannya (kecuali Dam dan Hadyu yang khusus dibagikan hanya di tanah Haram) dikirim ke orang-orang yang berhak di 23 negara. Subhanallah!

Loket pengambilan jatah Qurban

Kupon Dam dan Qurban memang hanya dijual di musim haji. Penyembelihan hewan Dam dan Qurban dilaksanakan mulai terbitnya matahari tanggal 10 Dzulhijjah (hari ke-1 Idul Adha) hingga terbenamnya matahari tanggal 13 Dzulhijjah. Jadi buat para jama’ah haji yang akan membayar Hadyu atau Dam lebih baik membeli kupon di loket-loket resmi seperti Adahi ini karena merupakan kerjasama dengan pemerintah setempat dan menghindari mafia-mafia yang menipu dengan mengambil keuntungan dari pembayaran Dam jama’ah.

 

 

 

Delina Partadiredja

Menulis sudah menjadi bagian hidupnya sejak masih duduk di bangku SD. Mulai SMA, Delina aktif menyumbangkan tulisannya di majalah sekolah dan majalah dinding. Setelah lulus SMA, Delina melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM Yogyakarta, kemudian MBA Finance di University of Leicester. Dunia jurnalistik dipelajari secara otodidak dan langsung terjun membuat tabloid saat masih kuliah berkolaborasi dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Delina sempat aktif menulis di Eramuslim.com, beberapa buku antologi telah diterbitkan seperti Menembus Batas Logika (eramuslim), Sedekah Senyum (bersama dengan Asma Nadia dan diterbitkan oleh Republika), dan the Muslimah Speaks (Mindswork Publishing). Kini Delina tinggal di Saudi Arabia. Bersama partnernya Gemi Hartojo dan didukung oleh para penulis yang berasal dari banyak negara membesarkan amuslima.com versi Bahasa Inggris serta indo.amuslima.com. Email: delina@amuslima.com FB: Delina Partadiredja Twitter: DelinaDelina Linkedln: Delina Partadiredja Skype: Delina Partadiredja

Leave a reply

Related Posts