Di Balik Layar Acara Indonesia Extravaganza

Di Balik Layar Acara Indonesia Extravaganza

Kamis malam lalu, 9 Maret 2017 adalah puncak acara Indonesia Extravaganza 2017, sebuah acara bergengsi promosi batik dan budaya Indonesia yang diselenggarakan oleh Pensosbud dan Dharma Wanita KJRI Jeddah di Balai Nusantara Indonesian Residence. Baik panitia maupun para model, penari, serta penyedia catering masakan khas Indonesia, semua sudah sibuk mempersiapkannya pada jauh hari sebelumnya. Acara yang diperuntukkan sebagai ajang promosi budaya, pariwisata, dan potensi ekonomi Indonesia ini dihadiri para istri konsul negara-negara seperti Afrika Selatan, Perancis, India, Korea, Pakistan, Gabon, Mesir, Cote d’Ivore, Algeria, China, dan Rusia.

Bisa dibilang dari seluruh acara yang disajikan, peragaan busana batik inilah yang membutuhkan persiapan paling lama. Seperti yang disampaikan oleh  Uwi SMN, designer Indonesia Extravaganza fashion show dengan bendera Nura Boutique ini, perlu konsentrasi selama 1,5 bulan terhitung dari design, menjahit, hingga siap dikenakan para model.

Uwi yang masih harus mengerjakan rancangannya di Indonesia ini baru melakukan pemilihan model saat ia kembali ke Jeddah pertengahan Februari lalu. Selama 3 minggu di Jeddah dia perlu mencari model-model yang sebagian besar bukan berprofesi sebagai model dan merupakan para ibu rumah tangga yang bermukim di Jeddah. Fashion show Indonesia Extravaganza ini menampilkan 20 gaun batik dan abaya sentuhan batik Prada Yogya Solo dan diperagakan oleh 17 model.

Bersama dengan Uwi perancang busana batik Indonesia Extravaganza Jeddah

Uwi (tengah) perancang busana batik Indonesia Extravaganza Jeddah.

Ketika dihubungi indo.aMuslima, Dian salah satu model yang belajar dadakan menceritakan bahwa merupakan tantangan tersendiri baginya untuk bisa berjalan di catwalk. Karena belum pernah ia lakukan maka tawaran Uwi pun diterimanya untuk menambah pengalaman. “Pertama datang syok karena mostly model lain jalannya sudah luwes,” dan “pertama kali jalan di complain terus sama bu Uwi, jalannya kaku kaya robot, karena memang pertama pakai highheels,” kata Dian sambil tertawa. Tapi Dian pun tidak putus asa, dia terus belajar dari model-model lain yang memang ada yang sudah pernah menjadi model kawakan di Jakarta, ataupun mantan finalis none Jakarta.

Dian (kiri) dan Fatma (kanan, mantan finalis none Jakarta 2001)

Dian (kiri) dan Fatma (kanan, mantan finalis none Jakarta 2001).

Dian belajar bagaimana cara jalan yang benar, “dan ternyata jalan harus di satu garis, harus feel proud sama diri kita, dan kita bertugas untuk menyampaikan pesan baju yang akan dibawakan,” lanjutnya. Di rumah ia belajar dari youtube cara jalan model di catwalk, belajar jalan di depan kaca yang besar, latihan dan melihat sendiri di depan kaca apakah gerakannya kaku atau tidak. Meskipun di hari pertama jalannya masih seperti robot, namun di hari ke-2 dan ke-3 latihan, Dian sudah semakin memahami bagaimana cara berdiri dan berjalan, apalagi setelah lihat baju yang akan ia bawakan.

Lain Dian, lain lagi pengalaman Chandra yang memperagakan abaya dengan sentuhan kain batik. Perpaduan budaya Arab-Indonesia ini menjadi menarik ketika dibawakan oleh Chandra. Sebagai seorang non-Muslim Chandra malah senang meskipun harus menutup kepalanya dengan kerudung. “Memang abaya kan seharusnya memakai kerudung… dan saya senang sekali bisa ikut dalam acara mempromosikan budaya Indonesia, batik khususnya, kepada publik di Arab Saudi,” sahutnya. Kepada indo.aMuslima Chandra melanjutkan, “saya sudah terbiasa hidup di lingkungan ini. Malah saya merasa kehidupan Muslim dengan segala budayanya juga sudah menjadi bagian dari saya. Suami dan anak-anak saya juga Muslim, sebagian besar teman-teman dekat saya juga Muslim dan selalu berhijab, jadi tidak ada hal yang baru buat saya. Senang dan bangga.”

Chandra dengan balutan kerudung dan abaya bersentuhan batik Indonesia

Chandra tampak cantik dengan balutan kerudung dan abaya bersentuhan batik Indonesia.

Walaupun masih terbilang muda (3 tahun), Nura Boutique yang bertempat di Jakarta ini sudah  mengadakan 3 kali fashion show yaitu 1 kali di Jakarta, dan 2 kali di Jeddah. Uwi, pemilik Nura Boutique, ini memang masih bermukim di Jeddah sehingga agak sulit untuk meluangkan waktu secara aktif dalam event fashion di Indonesia. Nura Collection adalah brand dari Nura Boutique, yang memang baru berdiri sejak Desember 2014. “Dimulai dari hobi dan kecintaan akan fashion dan alhamdulillah Allah memberikan saya bakat juga dalam fashion sehingga saya harus asah terus diusia saya sekarang …tidak ada istilah terlambat dalam berkarya,” ungkapnya.

Tema Nura Boutique tahun ini adalah the Royal of Java, dan gayungpun bersambut ketika KJRI Jeddah juga berniat mengusung budaya Indonesia sebagai ajang promosi pariwisata Indonesia 2017.   “Terpikirlah untuk membuat kreasi batik Prada dengan sentuhan batu-batu kristal swarovsky dan ornamen-ornamen lainnya sehingga jadilah sebuah gaun batik Prada yang cantik, anggun dan terkesan mewah,” lanjut Uwi. Harga baju yang Nura Boutique tawarkan untuk pasar Jeddah ini di kisaran 300-700 Saudi Riyal (Rp 1 juta – Rp 2,5 juta).

Tantangan terbesar dalam menjalankan usaha butik ini menurut Uwi adalah “kita harus mampu, peka dan terus up to date mengikuti trend mode yang ada karena persaingan dalam bisnis butik semakin hari semakin ketat. Sementara untuk mode khususnya busana muslimah, Indonesia cukup mendapat tempat di dunia, sejauh yang saya tahu.” Sementara Uwi menambahkan bagi pemula yang bergerak dalam bisnis fashion untuk selalu peka mengikuti tren mode yang ada disetiap waktu, harus kreatif dan berani menampilkan kreasi yang berbeda dengan lainnya. 

Uwipun salut dengan para model yang kompak dan antusias dalam acara fashion show ini. Melalui indo.aMuslima Uwi ingin menyampaikan rasa terimakasihnya “kepada mbak Eveline dan team modelnya yang solid yang tidak bisa disebutkan satu per satu, bu Winur, mbak Debi, mbak Chandra, bu Merti, bu Untang, bu Ema, mbak Erna, teh Siti, dan mbak Cherlinda….dan juga make up stylist kita yaitu mba Rita dan teamnya yang selalu setia membantu acara fashion show ini.” Insha Allah ke depannya Uwi juga akan membuat kreasi lain selain batik. Kita tunggu saja karya-karya berikutnya.

 

 

 

 

 

Delina Partadiredja

Menulis sudah menjadi bagian hidupnya sejak masih duduk di bangku SD. Mulai SMA, Delina aktif menyumbangkan tulisannya di majalah sekolah dan majalah dinding. Setelah lulus SMA, Delina melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM Yogyakarta, kemudian MBA Finance di University of Leicester. Dunia jurnalistik dipelajari secara otodidak dan langsung terjun membuat tabloid saat masih kuliah berkolaborasi dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Delina sempat aktif menulis di Eramuslim.com, beberapa buku antologi telah diterbitkan seperti Menembus Batas Logika (eramuslim), Sedekah Senyum (bersama dengan Asma Nadia dan diterbitkan oleh Republika), dan the Muslimah Speaks (Mindswork Publishing). Kini Delina tinggal di Saudi Arabia. Bersama partnernya Gemi Hartojo dan didukung oleh para penulis yang berasal dari banyak negara membesarkan amuslima.com versi Bahasa Inggris serta indo.amuslima.com. Email: delina@amuslima.com FB: Delina Partadiredja Twitter: DelinaDelina Linkedln: Delina Partadiredja Skype: Delina Partadiredja

Related Posts