The Golden Age dan Konsep Anak Dalam Islam

The Golden Age dan Konsep Anak Dalam Islam

Perkembangan anak-anak dan masalahnya selalu menjadi bahan yang menarik untuk dibahas dan dibicarakan, bahkan walaupun anak-anak kita sudah besar dan dewasa, tetapi ilmu tentang anak sangat berguna untuk kita semua. Indonesia Islamic International School Jeddah (Darul Ulum) pada tanggal 1 Februari 2017 mengadakan seminar tentang Tumbuh Kembang Anak Pada Usia Dini (PAUD) atau Golden Age, dan Konsep Anak Dalam Pandangan Islam. Nara sumber yang merupakan para pakar Psikologi dan Pendidikan membahas, menguraikan dengan singkat tapi padat dan sarat ilmu yang bermanfaat.

Banyak orang ketika  mendengar kata golden age akan  menuju kearah orang dewasa yang berumur 50 tahun keatas. Ternyata anak-anak pun memiliki masa atau periode “Golden Age” yaitu anak-anak yang berumur dari 0-5 tahun (0-6 tahun). Dimana didalam periode ini anak membutuhkan perhatian ekstra dari kedua orang tuanya. Periode ini dinamakan juga periode kritis, dimana anak akan sangat peka dan sensitif terhadap berbagai rangsangan dan pengaruh dari luar dan dapat mempengaruhi perkembangan pada periode berikutnya sampai anak menjadi dewasa. Demikian disampaikan Ibu Zulvianty Zulyadi, psi pakar psikologi UI.

Dari kiri ke kanan. Dr Elly Maliki, Zulvianti Zulyadi, dan Hanni Rinaldi manager pendidikan SIT Jeddah

Dari kiri ke kanan. Dr Elly Maliki (nara sumber dan perintis SIT Jeddah), Zulvianti Zulyadi, psi (nara sumber), dan Ir. Hanni Rinaldi (manager pendidikan SIT Jeddah).

Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi, tidak melihat baik dan buruk. Itulah masa-masa dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak akan mulai terbentuk. Karena itu, banyak yang menyebut masa tersebut sebagai masa-masa emas anak (Golden Age). Sementara Zulvianti menambahkan, bila anak mengalami kekerasan verbal di masa-masa ini, dimarahi, dilecehkan, ditertawakan akan menyebabkan luka psikologi dan kerusakan otak besar anak. Hal ini berakibat pertumbuhan otak anak tidak berkembang maksimal sesuai dengan kapasitas seharusnya.

Anak yang merupakan buah cinta suatu pernikahan, buah hati kita, tumpuan kasih sayang kita membutuhkan juga pendidikan sejak usia dini.  Perkembangan Anak Usia Dini  (golden age) sangat penting dipelajari oleh setiap orang tua agar kelak pertumbuhan anak-anak mereka bisa maksimal baik secara fisik maupun secara psikologi. Semua anak yang lahir di dunia pasti mempunyai sisi kreativitas, tapi dalam kadar yang berbeda. Tinggi rendahnya kreativitas anak dipengaruhi oleh dua hal, yaitu faktor genetika (bawaan lahir) dan faktor lingkungan. Kreativitas ini akan tumbuh secara optimal jika kedua faktor dipadukan secara baik.

Kreativitas anak sangatlah penting

Kreativitas anak sangatlah penting

Pendidikan anak tidak terlepas dari pendidikan agama. Didalam konsep anak dalam pandangan Islam, anak dapat merupakan Amanah, Penyejuk Jiwa dan Penenang Hati, Perhiasan Dunia, tapi dapat juga menjadi Fitnah dan Musuh. Demikian yang disampaikan Ibu Dr. Elly Warti Maliki, MA pakar pendidikan.

Anak adalah amanah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dalam hal ini anak adalah makhluk yang dititipkan Allah SWT kepada kedua orang tuanya yang diberikan kepercayaan untuk membesarkan, mengasuh , menjaga, mendidik, memelihara dan melindungi dari segala macam mara bahaya dengan pesan-pesan yang disampaikan melalui Al Qur’an dan Hadits. Anak hanyalah sebagai titipan, bukan hak milik penuh orang tuanya. Kapan saja Pemilik berhak mengambil titipannya.

Oleh karena itu orang tua wajib untuk merawat, mengasuh dan mendidiknya dengan baik agar mereka tumbuh menjadi manusia yang seutuhnya. Manusia yang seutuhnya adalah manusia yang berkembang secara optimal segenap potensi yang dimilikinya. Anak dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah), seperti kertas putih yang suci dan bersih, akan tetapi sejumlah potensi telah disiapkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam diri anak yang harus menjadi tanggung jawab orang tua, masyarakat dan bangsa.


قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ. فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ وَيُنَصِّرَانِهِ وَيُمَجِّسَانِهِ.

Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi.

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS; Al Anfal ;27)

Anak sebagai perhiasan dunia.

Allah SWT berfirman:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shalih adalah lebih baik pahalanya di sisi Rabbmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)

Subhanallah, anak memiliki kedudukan yang istimewa yaitu sebagai perhiasan dunia bagi orang tuanya, anak menjadi suatu keindahan bagi orang tuanya, anak menjadi sumber kebahagiaan bagi orang tuanya. Begitu banyak ungkapan bahagia dan rasa syukur yang diucapkan ketika seorang anak lahir ke dunia.  Namun di akhir ayat Allah SWT mengingatkan kita kalau beribadah kepada Allah SWT, meluangkan waktu bersama Allah SWT jauh lebih baik dari kedekatan serta belas kasih yang berlebihan kepada anak.

Anak-anak sebagai fitnah dunia

Mengapa anak bisa menjadi fitnah dunia?, Sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu): di sisi Allah-lah pahala yang besar.” (at-Taghabun: 15)

Keindahan dan nikmat diberikan anak itu tidak boleh melalaikan dari tugas para orangtua menjadi hamba Allah yang baik dan ta’at pada segala perintah dan laranganNYA.

Anak-anak sebagai musuh

Allah Subhanahu wata’ala berfirman,

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka;” (At-Taghaabun: 14)

“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya disisi Allah ada pahala yang besar” (Q.S Al-Anfal : 28)

Ayat ini menjelaskan ketika anak menjadi sebab kedurhakaan dan kemungkaran bagi orang tuanya. Mungkin kita sering mendengarkan tak sedikit orang tua yang melakukan apa saja (tanpa harus melihat halal atau haram) untuk anak dan keluarganya. Atau mungkin disaat anak memaksa untuk memenuhi kebutuhannya namun orang tua belum sanggup secara ekonomi maka menjadikan orang tuanya melakukan perbuatan terlarang demi memenuhi kebutuhan anaknya.

Anak sebagai penyejuk jiwa dan penenang hati.

Alangkah indah nya doa yang kita lantunkan setiap selesai sholat fardhu agar Allah SWT menganugrahkan kepada kita pasangan, anak-anak yang sholeh dan sholehah.

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang-orang yang berkata “Ya tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa” (Q.S : Al-Furqan : 74)

Imam Qurthubi menjelaskan makna “Qurrata A’yunin” adalah sesungguhnya jika manusia diberi berkah dalam harta dan anaknya, maka matanya menunjukkan kebahagiaan karena keluarga dan kerabatnya. Jika ia memilki keturunan yang senantiasa menjaga ketha’atan dan membantunya dalam menunaikan tugas-tugas agama dan keduniaan, sehingga matanya menjadi tenang dan tidak berpaling kepada yang lainnya, maka itulah kebahagiaan mata dan ketenangan jiwa. Inilah yang dinamakan anak sebagai Qurrata a’yun.

Untuk menciptakan generasi penyejuk jiwa, Allah SWT berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَاراً وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَة

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.” (QS At-Tahrim : 6).

Inilah konsep anak dalam pandangan Islam, dan pendidikan pengajaran dimulai sejak dalam kandungan dan usia dini.

Oleh karena itu, kita sebagai orangtua/ keluarga sebagai tempat pendidikan pertama dan utama bagi anak,  hendaknya memanfaatkan masa emas anak dengan memberikan pendidikan karakter yang baik bagi anak. Sehingga anak bisa meraih keberhasilan dan kesuksesan dalam kehidupannya di masa mendatang. Dengan mengembangkan potensi anak dan menggabungkan kecerdasan spiritual, intelektual dan emosional anak. Dan kerja sama dengan lembaga pendidikan anak usia dini (TK atau sejenisnya) sangat membantu dalam mendukung pengembangan potensi anak-anak kita tercinta secara optimal dalam pertumbuhannya.

Qathrun Nada Djamil

Setelah menyelesaikan S1 nya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Qathrun Nada Djamil menetap di Jeddah-Saudi Arabia bersama suami, 3 orang putra dan seorang putrinya. Kemudian menyelesaikan diploma Business English di Business Training Limited –England. Membaca adalah hobbynya dan mulai menulis secara otodidak di note Face Book kemudian bergabung dengan aMuslima.com pada tahun 2011. Awal tahun 2015 Qathrun Nada Djamil menjadi salah satu editor buku Apa judul buku ini karya Tupon Dj.

Related Posts