Hidup Sebagai Single Mom, Kisah Nyata

Hidup Sebagai Single Mom, Kisah Nyata

Tentu tidak mudah bila seorang wanita dihadapkan pada situasi menjadi seorang ibu sekaligus seorang ayah, membesarkan anak-anak tanpa ada keterlibatan dari pasangannya, mengatasi segala permasalahan keluarga seorang diri, menentukan kemana anak-anak melanjutkan sekolah, mengajari anak-anak agar memiliki akidah kuat, agar kelak dapat tangguh mengatasi masalah kehidupannya, dan masih banyak lagi tugas yang tidak habis bila harus dijabarkan satu per satu.

Namun bagaimana bila menjadi single mom, baik karena perceraian maupun ditinggal mati suami, itu harus terjadi?

Siti (48) seorang ibu rumah tangga yang bermukim di Arab Saudi, sudah ditinggal mati suaminya sejak dia masih berusia 38 tahun. Sebagai seorang Warga Negara Indonesia yang memiliki suami berkewarganegaraan Yaman, tidak mudah baginya melalui hari-hari di awal dia menjadi single mom bagi putrinya yang ketika itu masih berusia 4 tahun.

Suaminya almarhum semasa hidupnya adalah tentara dengan pangkat jendral. Jadi walaupun dia warga negara non-Saudi tapi karena pengabdiannya kepada negara maka dia diperlakukan seperti warga Saudi. Suami Siti menghadap Sang Khalik ketika kanker prostat menggerogotinya dan bahkan dokter di London pun menyuruhnya untuk kembali ke Saudi karena rumah sakit di London tersebut sudah angkat tangan. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.

Awalnya Siti hanya berpikir untuk segera pulang ke tanah air dan membesarkan putri kecilnya di tanah kelahirannya. Namun rupanya perjalanannya tidak semudah itu. Kakak almarhum tidak menginginkan keponakannya dibawa begitu saja ke Indonesia. Belum habis kepedihannya karena ditinggal suami tercinta, dia harus menghadapi proses pengadilan untuk memperoleh hak asuh anaknya.

Proses pengadilan yang meletihkan itu membutuhkan waktu hingga 2 tahun lamanya untuk akhirnya diputuskan bahwa Siti boleh mengasuh putrinya tetapi harus tetap tinggal di Saudi hingga putrinya berusia 18 tahun. Alasannya adalah bila dia membawa pulang putrinya yang masih kecil dan membesarkannya sendiri, hartanya akan habis sebelum putrinya dewasa.

Tanpa sanak saudara selain saudara dari almarhum suaminya, tinggal di tanah rantau jauh dari keluarga dan menjadi single mom tentu berat. Karena tidak bekerja, Siti hidup dari harta warisan suami yang diterimanya. Sementara harta warisan anaknya disimpan negara berdasarkan peraturan pengadilan saat itu untuk kelak menjadi hak putrinya bila dia sudah dewasa.

“Memang disini negara aman alhamdulillah, sampai sekarang belum ada masalah cuma masalah kecil-kecil saja,” katanya kepada aMuslima ketika saya tanya bagaimana kehidupannya setelah ditinggal suami. Tanpa ada kesan mengeluh ataupun meratapi nasibnya, wanita tegar kelahiran Makasar ini melalui hari-harinya berdua saja dengan putrinya yang kini sudah berusia 14 tahun.

Walaupun demikian, proses untuk menjadi wanita yang mandiri ini tidaklah mudah. “Setelah selesai pengadilan, disitulah saya mulai berdiri sendiri, dan nggak pernah lagi takut keluar sendiri, pokoknya saya tawakal kepada Allah (SWT), dan saya merasa kuat. Apalagi saya dilindungi kedutaan sendiri, kedutaan Indo,” (maksudnya konsul Jeddah) sambungnya.

Ketika bercerita ini kepada aMuslima, dia akui bahwa tidak mudah untuk melupakan masa-masa indah bersama almarhum, karena dia begitu baik, apalagi bila Siti melihat putri semata wayangnya. Rencananya bila putrinya sudah berusia 18 tahun dan mereka tidak diharuskan tinggal lagi di Saudi, Siti berencana untuk tinggal di Indonesia dan menyerahkan sepenuhnya kepada anaknya nanti mau kuliah di mana yang penting bukan di Saudi. Alasannya karena dia kelak tidak lagi memiliki ikama (ijin tinggal di Saudi).

Sebagai warga non-Saudi untuk tinggal di Saudi memang harus memiliki kafil (sponsor) seperti kantor tempat bekerja, suami, ayah, atau warga Saudi yang memanggilnya untuk tinggal di Saudi. Bila tidak ada lagi orang yang menjadi kafil maka seseorang tidak bisa tinggal secara legal dan menetap di Arab Saudi.

Mengakhiri pembicaraannya dengan aMuslima, Siti pun berharap bisa terus mendampingi putrinya kemanapun putrinya kuliah karena dia tidak tega melepas putrinya sendirian. Kita doakan saja semoga puterinya sukses dan tercapai cita-citanya, dan Siti sebagai ibunda yang dengan sabar membesarkan anaknya bisa tetap istiqomah dan kuat menjadi seorang single mom.

Mengutip saran singlemuslimmums, portal khusus para orang tua tunggal, sebagai single mom sebaiknya  menjadikan keluarga khususnya saudara laki-laki, paman, atau kakek si anak (bila masih ada) untuk dapat mengisi kekosongan figur seorang ayah bila ayah si anak sudah meninggal atau keberadaan ayahnya tidak diketahui lagi.

Tidak ada salahnya bila para single mom mengikuti grup-grup khusus single Muslim mom atau orang tua tunggal meskipun hanya di dunia maya misalnya, karena bisa saling berbagi cerita dan merasa bahwa tidak hanya dia seorang yang memiliki nasib sebagai single mom. Bila ingin menjauhkan diri dari perbuatan haram dan memutuskan untuk menikah lagi pun keputusannya kembali kepada wanita yang menjalaninya.

Selanjutnya, serahkan semua kepada Allah Sang Pencipta, sutradara yang Maha Kuasa bagi setiap mahlukNya. Bila kita menyerahkan nasib dan rezeki kita hanya kepadaNya, niscaya hidup kita akan lebih tenang, tentram, dan selamat dunia akhirat. Aamiin yaa Robbal Alamiin.

Dan mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan dengan mengerjakan sholat. Sesungguhnya sholat itu amatlah besar kecuali bagi orang-orang yang khusyu’. (QS Al-Baqarah: 45).

Delina Partadiredja

Menulis sudah menjadi bagian hidupnya sejak masih duduk di bangku SD. Mulai SMA, Delina aktif menyumbangkan tulisannya di majalah sekolah dan majalah dinding. Setelah lulus SMA, Delina melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM Yogyakarta, kemudian MBA Finance di University of Leicester. Dunia jurnalistik dipelajari secara otodidak dan langsung terjun membuat tabloid saat masih kuliah berkolaborasi dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Delina sempat aktif menulis di Eramuslim.com, beberapa buku antologi telah diterbitkan seperti Menembus Batas Logika (eramuslim), Sedekah Senyum (bersama dengan Asma Nadia dan diterbitkan oleh Republika), dan the Muslimah Speaks (Mindswork Publishing). Kini Delina tinggal di Saudi Arabia. Bersama partnernya Gemi Hartojo dan didukung oleh para penulis yang berasal dari banyak negara membesarkan amuslima.com versi Bahasa Inggris serta indo.amuslima.com. Email: delina@amuslima.com FB: Delina Partadiredja Twitter: DelinaDelina Linkedln: Delina Partadiredja Skype: Delina Partadiredja

Comments ( 2 )
  1. nita nurul hidayati
    October 7, 2016 at 3:27 am

    setelah baca cerita diatas larut aku didalamnya, tapi aku single mom karena perceraian. lama sudah sampai aku tak mengingat kapan tepatnya palu diketok.kini anakku sudah kelas IV SD,membiayai hidup, sekolah sendiri yang makin hari menyesakkan dada. tapi aku juga tidak pernah mengeluh kecuali pada allah SWT. BERSYUKUR AKU BISA MELALUI SAMPAI DETIK INI.WALAUPUN KINI AKU BEKERJA DENGAN ADANYA PERUBAHAN MANAGEMENT YANG SEBENARNYA BERAT TAPI AKU HARUS KUAT KARENA ADA TANGGUNG JAWAB YANG HARUS AKU JALANKAN. MULAI MENCOBA BUKA LES KECIL2AN,UNTUK MENAMBAH UANG JAJAN.BERSYUKUR DAN SELALU BERSYUKUR……
    TERIMA KASIH INSIPIRASINYA………

    • Delina Partadiredja
      Delina Partadiredja
      October 20, 2016 at 6:03 am

      Semoga selalu dimudahkan Allah SWT

Related Posts