Hobi Belanja Bisa Bisnis Online di Belanda

Hobi Belanja Bisa Bisnis Online di Belanda

Di era kemudahan informasi seperti sekarang, bisnis online sudah banyak dijalankan orang. Tanpa harus keluar rumah setiap hari seperti layaknya orang yang kerja kantoran, orang masih bisa mendapat penghasilan. Vica Item, MBA di bidang General Management, ibu yang memiliki satu putera (11) dan satu puteri (8) ini termasuk salah seorang ibu rumah tangga yang sukses di bisnis online. Vica yang kini menetap di Amstelveen Belanda ini mampu bertahan dalam bisnis online barang-barang bermerk selama lebih dari 5 tahun. Ia dengan senang hati mau berbagi kisah suksesnya kepada indo.aMuslima. Berikut adalah petikan wawancaranya.

Vica Item

Vica Item

A: Bagaimana awalnya memiliki ide menjual barang-barang bermerk ini? 

V: Dari sekedar iseng karena melihat perbedaan harga barang branded di Indonesia dan di Jeddah waktu itu amat jauh terutama saat sale. Lalu saya mencoba membeli barang-barang saat sale. Saat itu yang saya beli adalah barang-barang keperluan anak, terutama bayi dan toddler karena saat itu anak saya memang masih seusia itu, jadi belum serius jualan. Karena toh saya pikir bila barang tidak terjual, bisa dipakai anak-anak sendiri atau bisa dijadikan kado.

Setelah itu saya mulai merambah ke barang-barang yang memang tidak ada di Indonesia saat itu, seperti perabotan rumah tangga unik dari Swedia, juga tas-tas branded yang memang saat sale harganya jauh lebih murah. Saat itu kebanyakan pembelinya adalah teman dan saudara di Indonesia. Namun karena saya menumpang menaruh barang di akun jualan saudara, ada juga pesanan yang berasal dari orang yang memang benar-benar tidak saya kenal.

Lama kelamaan karena sebagai wanita suka memakai berbagai macam tas, saya juga mulai menjual tas branded, terutama saat sale di Jeddah dan saat pergi berjalan-jalan ke Eropa. Saat di Jeddah, saya juga terkadang membuka pesanan (preorder) jasa titip belanja saat kami ke Eropa. Kebetulan beberapa merk saat itu belum ada di Jeddah, sehingga selain tas, saya juga membuka pesanan apa saja yang diinginkan klien, seperti parfum dan jam tangan.

A: Apa alasan memilih untuk jual barang branded atau bermerk?

Ya, kebanyakan barang yang saya jual adalah barang branded otentik karena lebih mudah mendapatkannya,  tinggal pergi ke store-nya, dan terutama sekali karena bila produk memiliki brand yang bagus, umumnya dapat menjadi jaminan kualitasnya. Jadi mau jual tas, sepatu sampai panci dan peralatan dapur pun, bila saya tau merknya, saya bisa tahu level kualitasnya seperti apa. Saya dapat memberikan saran tentang suatu produk, karena tiap brand mempunyai kekhasan produk baik dari segi kualitas maupun identitas yang dapat mempengaruhi klien dalam keputusan membeli suatu barang.

A: Bagaimana prosesnya hingga memiliki lapak online sendiri?

V: Awalnya numpang berjualan di lapak online saudara saya,  akhirnya setelah 3 tahun numpang berjualan, pada Desember 2012 saya membuka online shop sendiri, dimulai di Facebook dengan nama Le Carrousel Shop. Pelan-pelan kontak mulai banyak, walaupun sebagai pemain baru yang belum memperoleh status trusted, saya masih belum banyak mendapatkan orderan. Awalnya selain berjualan dengan membeli barang langsung di store, saya juga membeli barang secara dropship di beberapa supplier yang sudah terpercaya menjual barang otentik.

Tetapi alhamdulillaah seiring berjalannya waktu dan usaha untuk exist di berbagai grup dagang, orderan mulai bertambah. Lama-lama makin banyak orang yang percaya bahwa barang yang saya jual adalah barang otentik dan yang juga penting adalah bahwa saya benar-benar deliver barang. Itulah yang harus terus dipertahankan, karena dalam berdagang secara online, modal utama adalah kepercayaan.

Setelah saya pindah ke Belanda, saya lebih bisa banyak berjualan tas, parfum, sepatu, aksesoris (jam) dan lain-lain, karena barang yang banyak dicari pelanggan memang biasanya barang merk dari Eropa. Sementara untuk barang brand AS, saya lebih memilih untuk tetap setia ke supplier saya. Dan setelah beberapa lama di berbagai grup barang otentik, saya pun dapat menemukan beberapa supplier baru.

A: Apa yang menjadi motivasi untuk melakukan bisnis ini?

V: Sebagai perempuan, tidak dapat saya pungkiri saya hobi berbelanja, apalagi bila ada sale atau barang murah di outlet. Lalu bila berbelanja bisa menghasilkan uang, mengapa tidak dikerjakan keduanya? Pasar pun ada untuk bisnis barang branded dengan harga terjangkau. Itulah mengapa saya melakukan bisnis online shop dan personal shopper ini. Terkadang, ada kepuasan tersendiri saat saya memegang dan membawa barang mewah pesanan klien, jadi walau belum mampu membeli barang tersebut, setidaknya sudah pernah mencobanya. Hahaha…

Jadi hobi dan minat merupakan penggerak utama saya menjalankan bisnis ini. Selain itu saya juga dapat berjalan-jalan ke berbagai butik dan outlet sambil berlibur dan berbelanja. Khusus yang terakhir, karena saya juga suka traveling. Mulai akhir tahun 2016, saya juga mulai mengembangkan usaha private travel bekerja sama dengan teman keluarga kami di Amstelveen. Untuk membedakan dengan travel lain, saya  melakukan branding penawaran kenyamanan dan halal tour.

Apapun yang kita kerjakan, bila kita menyenanginya, tentu kita akan senang hati meluangkan waktu dan tenaga untuk itu. Tentunya tak lupa bahwa jaman dahulu Khadijah R.A adalah seorang pedagang/pengusaha wanita yang berhasil. Hal seperti ini tentunya membuat saya ingin belajar menjadi seorang pedagang.

A: Bagaimana cara memiliki modal awal?

V: Modal awal saya hingga saat ini selain dari tabungan sendiri juga dengan cara crowdfunding alias mengumpulkan pinjaman Qardhasan dari teman dan sanak saudara. Sistem penjualan saya kebanyakan adalah dengan pre-order, dimana butuh waktu mulai dari barang dibeli sampai dengan barang tiba di Indonesia dan siap dikirim ke pembeli. Kebutuhan dana tersebut disupply dari mencari teman dan saudara yang dapat meminjamkan uang sesaat dan langsung dikembalikan saat PO (preorder) selesai, yaitu pembayaran dari pembeli masuk ke rekening saya.

A: Apa kiatnya dalam melakukan pemilihan barang, menentukan harga, promosi, dan distribusi?

V: Sampai awal tahun lalu, saya belum berani membeli banyak barang untuk stock di Jakarta. Namun karena melihat demand (permintaan) bahwa terkadang orang mau cepat atau maunya langsung beli barang yang sudah ada, saya pun mulai menyetok barang. Itu pun setelah melihat trend apa yang kira-kira disuka orang. Sayangnya, pasar Indonesia yang begitu besar kadang susah diprediksi, sehingga terkadang banyak stok yang lama tidak terjual. Karena itu mulai pertengahan tahun lalu, saya melakukan cara belanja ‘Live Shopping‘, semacam menjual jasa titip beli atau proxy shopping. Dengan begitu calon pembeli bisa melihat langsung barang yang ada hari itu, kemudian langsung membeli hari itu juga bila harga cocok. Servis seperti ini membuat klien merasa nyaman karena tidak perlu keluar rumah ataupun pergi keluar negeri untuk berbelanja barang idamannya.

Vica ketika Live Shopping

Vica ketika Live Shopping

Harga yang saya kenakan adalah harga barang sampai Jakarta, yaitu service fee saya plus shipping fee dari Belanda dan perkiraan cukai yang dikenakan Dinas Bea Cukai di Indonesia. Kebanyakan orang mengira barang yang dijual di online shop tidak kena pajak atau cukai. Sayang sekali hal itu tidak benar. Beredar pula berita di pertengahan 2015, bahwa pajak barang mewah (PPNBm) sebesar 40% dihilangkan atas tas. Memang benar adanya, namun Bea Masuk untuk tas apapun dinaikkan menjadi 20% dari sebelumnya 15%. Selain itu ada PPN 10% dan PPh-22 sebesar 10.5% yang harus dibayarkan dari Objek Pajak setelah dikenakan bea masuk. Secara efektif total cukai yang harus dibayarkan untuk tas adalah sekitar 40-45% dari harga barang.

Lalu bagaimana onlineshop bisa menjual lebih murah dari kebanyakan butik di Indonesia? Simple saja. Kami tidak perlu membayar sewa gedung, gaji karyawan, biaya advertising dan biaya-biaya lain yang biasanya dikeluarkan oleh toko offline (brick & mortar). Modal kami kebanyakan adalah biaya packing, biaya pulsa, biaya transportasi dan untuk saya karena saya tidak mengelola sendiri pengiriman, adalah biaya tips dan pulsa untuk asisten yang membantu packing dan pengiriman barang saya di Jakarta. Asisten saya inilah yang berperan besar membantu distribusi. Pengiriman saya lakukan dengan berbagai kurir yang ada seperti JNE, J&T, GoSend, Indah logistics dll.

Saya juga berjualan di Instagram Business dan beberapa marketplace besar di Indonesia seperti Tokopedia dan Bukalapak. Marketplace tersebut amat membantu dalam transaksi terutama bagi yang ingin memakai kartu kredit atau untuk orang yang belum mengenal Le Carrousel sehingga mungkin lebih aman bila bertransaksi dengan bantuan pihak ketiga yang terpercaya.

Selain itu untuk beberapa jenis barang, seperti sepatu dan koper besar, saya kirimkan langsung dari Belanda ke alamat customer di Indonesia. Customer tinggal mengambil barang di kantor pos atau untuk barang kecil akan diantarkan langsung. Saya juga memberikan perhitungan perkiraaan cukai yang harus dibayarkan sendiri.

Sebagai tangan pertama, saya memang jarang memberikan diskon atau promosi kecuali kepada reseller langganan atau pembeli setia, karena harga yang sudah diberikan sudah dihitung berbagai komponennya, yang kadang dapat berubah, seperti kurs dan cukai. Jadi terkadang margin yang saya tetapkan pun tidak banyak, karena walaupun yang saya jual adalah barang ekslusif, tetapi tetap turn over/volume penjualan lah yang saya kejar. Belum lagi karena adanya batasan harga pasaran dari pedagang online lainnya. Terus terang sebagai dropshipper, memang lebih menguntungkan, karena kita tidak perlu bermodal. Namun seperti saya sebutkan di atas, motivasi saya berjualan bukan hanya sekedar mencari uang tapi juga menyalurkan hobi belanja.

Lalu saya pun mulai berjualan apa saja dan menawarkan servis jual apa saja asalkan barang halal dan otentik. Dengan kata lain, saya tidak mau menjual barang yang diduga memakai pigskin (kulit babi) atau barang replika. Untuk hal ini biasanya bila ada barang yang diduga memakai pigskin, saya akan menyurati customer service brand tersebut untuk menanyakan kebenarannya.

A:  Berapa rata-rata omzet per tahun dari bisnis online ini?

V: Untuk omzet tahun-tahun awal karena saya masih building reputation, masih tidak terlalu besar, kalau dikurs saat ini (1 euro = 14.000) mungkin hanya sekitar Rp 180-200juta. Alhamdulillaah bi idznillaah, setelah berbagai usaha dan penyaluran hobi menulis, di akhir tahun 2014, saya mulai mendapat beberapa orderan dari orang-orang baru. Pernah ada yang menyebarkan tulisan saya di blog bagaimana cara membedakan tas ori dan kw. Lalu banyak orang yang add di FB business page, Instagram bisnis, dan mereka pesan karena baca tulisan saya itu. Selain itu karena saya sedang mulai usaha travel, tulisan saya yang masuk media cetak jadi acuan calon klien, alhamdulillah.

Mulai pertengahan tahun 2015, omzet saya meningkat karena mulai dipercaya untuk menjadi personal shopper. Sebagai personal shopper, kita menjual jasa membelikan barang yang spesifik diminta klien, walaupun barang tersebut tidak saya tawarkan secara umum. Beberapa order untuk barang ekslusif dan high end brand pun meningkatkan nilai omzet saya, walaupun dalam jumlah barang atau order masih dapat dihitung dengan jari. Biidznillaah, tahun 2015 dan 2016 omzet Le Carrousel Shop memasuki 10 digit dalam rupiah atau 5-6 digit dalam euro. Angka ini mungkin tidaklah sebesar para pedagang online lain yang sudah mempunyai basis pelanggan yang besar. Namun nilai ini cukup mengejutkan juga bagi saya. Beberapa teman hendak menawarkan investasi murabaha ataupun mudharaba daripada qardhasan, tetapi saya tolak dengan halus, karena terus terang, margin yang didapatkan belum terlalu besar karena besarnya biaya procurement. Selain itu besarnya biaya-biaya lain yang tidak terduga juga dapat mengerutkan margin, sehingga saya khawatir belum dapat memberikan profit sharing yang memuaskan.

A: Dalam bisnis online ini kendala apa yang dihadapi?  

V: Kendala yang saya hadapi kebanyakan adalah waktu pengiriman yang kadang tidak menentu dan juga perang harga dari para pedagang online lainnya sehingga harga barang menjadi jatuh tidak menentu. Biasanya hal ini dilakukan oleh turis yang datang ke Eropa dan mendapatkan tourist tax refund. Sementara pedagang yang berasal dari Eropa tidak mendapatkan tourist tax refund, walaupun bukan warga negara Eropa. Namun, Allah tetap adil menentukan pintu rezeki, dan tiap-tiap pedagang mendapatkan jatah masing-masing.

Selain itu, terkadang beredar tukang tipu online shop yang membuat orang jadi meragukan pedagang online yang jujur. Tukang tipu atau lebih terkenal dengan sebutan TuTi biasanya memasang harga murah untuk suatu barang sehingga memancing para korban untuk membeli barang di tokonya. Setelah terkumpul uang, ternyata barang tidak dikirim.

A: Bisa berbagi tips bila ada yang ingin memulai usaha serupa? 

V: Bila hendak memulai usaha apapun, pertama adalah selalu memulainya dengan sabar. Tidak ada yang langsung bisa besar. Saat ini kebanyakan penjual baru, hanya ingin gampang. Mencari barang dengan amat murah, agar bisa dia jual dengan margin kecil. Suatu saat hal itu akan merugikan dirinya sendiri. Jangan sesekali mencederai janji atau kepercayaan, karena kepercayaan lebih mahal dari modal apapun juga. Selalu ramah dan siap melayani pelanggan. Usahakan untuk mengenal barang yang kita jual, product knowledge amatlah diperlukan. Basic-nya paling tidak adalah kita tahu merk apa itu, bahan dan ukuran dari produk yang kita jual. Jangan mengandalkan atau menyuruh klien mencari sendiri, karena kitalah yang menawarkan produk dan jasanya.

Note:

Qardh al-Hasan (pinjaman ihsan) merupakan pinjaman yang tidak ada syarat tambahan (bunga) pada saat pengembalian pinjaman.

Murabahah adalah perjanjian jual-beli antara bank dengan nasabah dimana bank syariah membeli dulu barang yang diperlukan oleh nasabah. Kemudian bank menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan sebesar harga perolehan ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati antara bank syariah dan nasabah.

Mudharabah dimana pemilik modal mempercayakan sejumlah modal kepada pengelola dengan perjanjian pembagian keuntungan.

 

Delina Partadiredja

Menulis sudah menjadi bagian hidupnya sejak masih duduk di bangku SD. Mulai SMA, Delina aktif menyumbangkan tulisannya di majalah sekolah dan majalah dinding. Setelah lulus SMA, Delina melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM Yogyakarta, kemudian MBA Finance di University of Leicester. Dunia jurnalistik dipelajari secara otodidak dan langsung terjun membuat tabloid saat masih kuliah berkolaborasi dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Delina sempat aktif menulis di Eramuslim.com, beberapa buku antologi telah diterbitkan seperti Menembus Batas Logika (eramuslim), Sedekah Senyum (bersama dengan Asma Nadia dan diterbitkan oleh Republika), dan the Muslimah Speaks (Mindswork Publishing). Kini Delina tinggal di Saudi Arabia. Bersama partnernya Gemi Hartojo dan didukung oleh para penulis yang berasal dari banyak negara membesarkan amuslima.com versi Bahasa Inggris serta indo.amuslima.com. Email: delina@amuslima.com FB: Delina Partadiredja Twitter: DelinaDelina Linkedln: Delina Partadiredja Skype: Delina Partadiredja

Related Posts