Islamic Parenting Di Hari Dongeng Santri (Bagian 2)

Islamic Parenting Di Hari Dongeng Santri (Bagian 2)

Setelah acara Dongeng Santri pada hari itu yang berlangsung dari Pukul 07.00 hingga 11.00 WIB. Alhamdulillah, Ustadz Muhammad Nasyir atau yang lebih dikenal dengan sebutan Kak Nasyir berkenan mengisi acara Kajian Parenting pada sore harinya, yang bertempat di Musholla Pondok Pesantren Al-Islam. Kebetulan beliau adalah sebagai Kepala SD Lazuardi Kamila, Solo, sekaligus juga sebagai pendiri komunitas Istana Dongeng. Menjadi pendongeng memang sudah menjadi bagian hidupnya, karena mendongeng bisa menjadi metode yang efektif untuk menasehati atau menanamkan nilai-nilai kebaikan pada anak.

Ustadz Abdul Qadir Aka dengan Kak Nasyir

Dengan didampingi Ustadz Abdul Qadir Aka, beliau berdua mengangkat sebuah kajian dengan tema :
“Menyiapkan Anak-Anak Jannah”.

Islamic Parenting dengan Tema: Menyiapkan Anak-Anak Jannah

Dalam pembahasannya beliau berdua memberikan point-point yang cukup mendasar yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua terhadap buah hati mereka. Di antaranya yaitu :

1. Memberikan penghargaan/mengapresiasi sebuah prestasi kepada anak.
Prestasi apa sajakah itu? Tentunya prestasi yang mengarah pada kebaikan. Seperti ketika anak bisa membaca Al-Quran misalnya, berilah mereka hadiah. Terkadang kita kurang menghargai ketika anak sudah bisa membaca Al-Quran. Kita hanya diam bahkan kalimat pujianpun tidak pernah terlontar dari lisan kita. Inilah kadang, yang membuat anak enggan untuk melakukan kebaikan itu untuk selanjutnya, karena merasa kebaikan yang sudah dia lakukan tidak diapresiasi.

2. Mengetahui perkembangan anak. Usahakan untuk selalu menyiapkan waktu buat anak. Menanyakan kabar dan juga perkembangan anak kita. Misal, ketika ia mulai rajin menghafal Al-Quran, tanyakan padanya sudah sampai mana hafalannya? Ada kesulitan atau tidak? Dan lain sebagainya. Itulah bentuk perhatian kita.

3. Penggunaan hp, playstation, atau game lainnya. Benar benar harus dibatasi, karena sesungguhnya pengaruh buruk hp bukan hanya sekedar merusak penglihatan akan tetapi juga kecanduan bahkan bisa menyebabkan kematian. (Seperti mencontoh superman yang terbang, dia loncat dari lantai atas atau memukul adiknya dengan alat seperti yang ada dalam game dll). Temani, bimbing, dan awasi saat anak-anak bermain gadget. Seringkali pula anak memperlakukan hp sebagai pengganti orang tua. Mereka lebih asyik bermain gadget sendiri ketimbang mengobrol atau menikmati kebersamaan dengan orang tuanya.

4. Jadilah teman yang baik untuk anak. Di saat mereka ingin cerita, curhat atau perlu bantuan kita, maka luangkanlah waktu untuknya. Kita pun sebagai orang tua jangan terlalu asyik dengan kesibukan sendiri. Karena kalau bukan kita, maka mereka akan cari orang lain untuk tempat mengobrol, cerita, curhat, dan sebagainya.

5. Jangan sampai kita kehilangan moment-moment indah dengan anak. Karena moment-moment itu tak akan terulang. Ketika mereka mulai banyak ke-bisa-an, saat mereka mampu menyelesaikan tugas dengan baik, tambah hafalannya, prestasi di sekolah meningkat. Namun jika kita terlalu sibuk maka hilanglah sudah saat-saat indah itu dan lupa untuk mengapresiasinya.

6. Jangan ada sekat antara orang tua dan anak. Sebagai contoh bila kita mudah marah pada anak, maka itu akan menjadi sekat dan menyebabkan anak tak mau lagi untuk bicara apalagi curhat pada kita. Begitu juga jika kita terlalu mendoktrin segala sesuatunya tanpa ada komunikasi yang sehat. Anak jadi merasa terbatasi ruang lingkupnya.

7. Jaga kapasitas hubungan yang baik antara orangtua dan anak dari kecil hingga anak dewasa, bahkan juga setelah mereka menikah. Karena saat masa-masa remaja seringkali kita sudah mulai jauh dengan anak. Itulah di antaranya yang kadang membuat adanya jarak antara orang tua dan anak. Apalagi setelah mereka berkeluarga, jangan sampai nantinya hati mereka tak lagi terpaut dengan kita. Sibuk dengan dunianya sendiri.

Bersama Kak Nasyir, ustadz Abdul Qadir Aka & istri

Maymunah MNC

Penulis adalah lulusan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, jurusan Tafsir Hadits. Kecintaannya pada dunia anak digelutinya dengan mengajar anak-anak sekitar rumahnya sejak ia masih Tsanawiyah, atau setingkat dengan SMP. Saat kuliah ia sempat mengajar di sebuah Tsanawiyah. Kini Maymunah tinggal di Jeddah, Saudi Arabia. Sempat menulis untuk Buletin Duta Bangsa yang diterbitkan masyarakat Indonesia di Saudi Arabia. Dalam sebuah kajian bertajuk: Iqra, Keummian Rasulullah, Serta Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Luas. Kumpulan puisinya terangkum dalam buku koleksi pribadinya, Ku Ingin Menciummu. Saat ini bersama anak-anak didiknya yang ia beri nama Rabbbani Education Foundation tengah melakukan kegiatan menulis bersama, di sela-sela kegiatan belajar mengajar. Walau tinggal jauh dari tanah airnya, Maymunah bersama dengan keluarga besarnya tetap ingin menebar manfaat dengan mendirikan sebuah Pondok Pesantren di daerah Cirebon, dengan mengutamakan anak-anak yatim dan yang kurang mampu agar tetap dapat menuntut ilmu.

Related Posts