Keraton Ratu Boko dan Gudeg Yogya (Bagian 3)

Keraton Ratu Boko dan Gudeg Yogya (Bagian 3)

Keraton Ratu Boko

Selain Candi Borobudur dan Prambanan yang telah dimasukkan dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO, ada sebuah situs lagi yang mendapatkan otorita khusus dari pemerintah pusat yaitu Situs Ratu Boko, yang akan dijadikan sebagai tempat pendidikan dan kegiatan budaya.

Mendengar dari namanya membuat saya bertanya-tanya. Apakah ini sebuah candi atau istana? Karena ada yang menyebutkan dengan istilah Candi Ratu Boko, sedang yang lainnya mengatakan Keraton Ratu Boko.
Dan dari namanya, mengapa Ratu Boko ya?.. Apakah pemimpinnya seorang wanita?..
Untuk menjawab rasa keingintahuan saya, maka saya dan keluarga pun memutuskan untuk menuju situs Ratu Boko.

Karena letaknya tidak terlampau jauh dari Wisata Tebing Breksi, kami langsung menuju kawasan situs Ratu Boko. Untuk tiket masuknya, para pengunjung dikenakan biaya Rp. 40.000 per orang. Di sana juga telah disediakan pemandu wisata bagi siapa saja yang memerlukannya, dan dikenakan tarif khusus.

Berlatar belakang pemandangan bawah bukit Ratu Boko

Kami didampingi oleh Pak Slamet Widodo, tour guide yang menemani kami selama berkeliling di kawasan Ratu Boko. Pak Slamet orangnya ramah dan penuh humor, membuat kami merasa nyaman dan langsung akrab dengan beliau.

Bersama Pak Slamet Widodo, tour guide Keraton Ratu Boko, yang ramah

Dari beliaulah kami mendapatkan beberapa info yang cukup menarik.
Menurut beliau untuk menjelaskan tentang Ratu Boko ini terdapat beberapa versi, yaitu versi legenda, sejarah, dan Al-Quran.

Untuk versi legenda, situs Ratu Boko ini dikaitkan dengan kisah Roro Jonggrang yang candinya terdapat dalam candi Prambanan. Nama Ratu Boko sendiri, diambil dari nama ayah Roro Jonggrang, yang bernama Ratu Boko. Ternyata perkiraan saya meleset, saya kira itu adalah nama dari seorang perempuan, hehe..

Sedangkan untuk sejarah, situs Ratu Boko pertama kali dilaporkan oleh seorang arkeolog Belanda bernama Van Boeckholzt pada tahun 1790, yang menyatakan, terdapat reruntuhan kepurbakalaan di atas bukit Ratu Boko. Berbeda dengan candi-candi yang lain, Situs Ratu Boko ini terletak di atas puncak sebuah bukit yang tingginya -+200m di atas permukaan laut.

Suasana cantik alami di kawasan Ratu Boko

Diperkirakan situs Ratu Boko ini sudah ada sejak abad 8 Masehi, yaitu pada masa Dinasti Syailendra (Rakai Panangkaran). Sebagai buktinya dengan ditemukannya sebuah Prasasti berangka tahun 792 Masehi, yaitu prasasti Abhayagiri Wihara yang bila diartikan bermakna “biara di atas bukit yang jauh dari bahaya”. Melihat dari prasasti tersebut, Rakai Panangkaran diperkirakan beragama Budha, dan dalam situs Ratu Boko juga terdapat arca-arca peninggalan agama Budha, seperti arca Dyani Budha.

Setelah berakhirnya masa pemerintahan Dinasti Syailendra, kemudian digantikan oleh Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu. Oleh karena itu terdapat pula beberapa peninggalan agama Hindu seperti arca Durga, Ganesha, Yoni, dan 3 miniatur candi. Sehingga Ratu Boko sendiri lebih dikenal sebagai peninggalan Kerajaan Hindu Mataram kuno.
Dari sini kita bisa melihat bagaimana agama Budha dan Hindu dapat hidup berdampingan.

3 miniatur candi peninggalan agama Hindu

Pada tahun 1943, situs Ratu Boko ini mulai dipugar, menurut pak Slamet, batu-batu yang ada di tempat tersebut dicoba susun-coba susun hingga jadilah seperti sekarang ini, mencoba menyempurnakan bangunan yang telah runtuh.

Pak Slamet juga sempat menunjukkan sejumlah batu yang telah tersusun sedemikian rupa di antara batu-batu yang masih berserakan.
Situs Ratu Boko pun masih penuh misteri hingga saat ini dan masih terus dilakukan penelitian-penelitian.

Dari beberapa lokasi yang saya lihat, situs ini memang luas sekali, diperkirakan luasnya mencapai hingga 25 hektar.

Oh iya, bagi anda yang ingin melihat sunset, tempat ini juga bisa jadi spot kamera yang cantik.

Temuan situs-situs arkeologi di Ratu Boko di antaranya adalah:

1. Gerbang Utama Keraton Ratu Boko.

Gerbang utama yang terdiri dari 3 pintu

Saat kita memasuki kawasan Ratu Boko kita akan berjalan menanjak melalui sebuah anak tangga.

Anak tangga yang cukup tinggi menuju gerbang utama dan kawasan Ratu Boko

Kemudian berjalan lurus dan agak panjang, selanjutnya akan kita dapati gerbang utama terdiri dari 3 pintu. Berikutnya kita akan memasuki gerbang kedua yang memiliki 5 pintu. Jumlah kesemuanya menjadi 8 pintu.

Berpose dengan latar belakang gerbang utama dan gerbang kedua

Sesuai dengan filosofi Hastabrata, yaitu 8 tindakan pengendalian diri yang harus dimiliki seorang pemimpin.

2. Candi batu kapur atau batu putih.

Candi batu kapur atau batu putih

Setelah melewati gerbang kedua, berikutnya kita akan mendapati tumpukan batu kapur atau disebut juga batu putih. Sehingga dinamakan sebagai Candi Batu Kapur atau Candi Batu Putih.

3. Candi pembakaran dan sumur suci.

Candi pembakaran

Berjalan ke dalam melalui sebuah pintu, di sisi sebelah kiri, kita akan mendapati sebuah bangunan berundak yang terbuat dari batu andesit dengan tinggi sekitar 3,82 meter. Berbentuk persegi kira-kira ukuran 22,60 x 22,33 meter, yang dinamakan sebagai candi pembakaran. Dengan menaiki anak tangga, kita akan mendapati sebuah lubang berbentuk persegi panjang, di atas tumpukan batu-batu candi tersebut.

Tempat ditemukannya sisa-sisa pembakaran berupa abu kayu

Sebagian orang mengatakan bahwa di sinilah tempat pembakaran mayat. Namun yang ditemukan sebenarnya adalah sebuah abu kayu. Jadi, para arkeolog sendiri tidak bisa memastikan bahwa yang dimaksud dengan candi pembakaran ini adalah tempat membakar mayat, ujar pak Slamet.

Sumur suci yang masih dipergunakan hingga saat ini

Di sebelah kanan bawah candi tersebut, ada sebuah sumur. Orang-orang menamakannya sebagai sumur suci yang dipercaya membawa keberuntungan bagi siapa saja yang menggunakannya. Hingga saat ini air dari sumur suci masih digunakan untuk upacara keagamaan Tawur Agung masyarakat Hindu.

4. Paseban.

Paseban, sebuah tempat yang diperkirakan sebagai tempat menunggu untuk bertemu dengan raja

Berjalan lagi masuk, kira-kira arah kanan jalan terdapat tumpukan batu-batu yang dinamai Paseban. Terdiri dari 2 batur. Paseban timur dan Paseban barat yang saling berhadapan antara satu dengan yang lainnya, luas masing- masing paseban sekitar 24 x 13 meter. Namun belum diketahui secara pasti fungsinya. Nama paseban sendiri dianalogikan sebagai ruang tunggu bagi siapa saja yang hendak menemui raja.

Saya mulai membayangkan ketika para rakyat berkumpul di sana duduk bersimpuh menunggu untuk bertemu raja mereka. Lalu berjalan lagi untuk sampai di area pendopo, tempat dimana singgasana raja berada.

Yaa.. pikiran saya mulai mengelana membayangkan masa yang lalu. Bagaimana mereka membangun keraton seluas ini dengan batu-batu berundak yang tersusun cantik. Meskipun bentuk bangunan yang sungguhnya saat ini tidaklah nampak. Namun auranya bisa aku rasakan.

5. Pendopo Keraton

Pendopo Keraton yang nampak luas dan megah

Sebelum memasuki pendopo keraton, dari paseban kita akan menuruni anak tangga yang dindingnya pernah dijadikan sebagai benteng pertahanan.

Dinding-dinding yang berada di samping anak tangga, berfungsi sebagai benteng pertahanan

Dari kejauhan nampaklah sebuah tembok batu memanjang yang menjadi pagarnya. Kira-kira ukuran 40 x 33 x 3 meter. Sangat megah.

Bagian dalam tembok keraton

Begitu pula di dalamnya, meskipun itu hanyalah bagian pondasinya saja. Ada beberapa titik yang menurut Pak Slamet, adalah pondasi atau umpak dari sebuah tiang.

Sebuah umpak yang diperkirakan sebagai tempat berdirinya tiang kayu

Tiang-tiang itu diperkirakan terbuat dari kayu, bahan yang mudah rusak sehingga tidak awet, oleh karenanya bangunan yang terbuat dari kayu telah lenyap.

6. Keputren

Keputren (tempat khusus putri)

Dari pendopo, kemudian menuruni sebuah anak tangga. Berjalan ke arah kiri. Terlihatlah sebuah kolam dan keputren. Asal nama tempat keputren ini dihubungkan dengan legenda setempat ‘keputren’ (daerah wanita). Terdiri dari 2 batur yang terbuat dari batu andesit yang menghadap ke barat. Batur bagian selatan dengan ukuran 21,43 x 22,7 x 1,75 meter. Dan batur bagian utara dengan ukuran 16,4 x 14,9 m.

Beberapa dipan ukiran tertata rapih, putri-putri mulai menata diri ditemani para dayang-dayang mereka. Sungguh cantik.. gumamku dalam hati, sembari menerawang suasana kala itu 😊

7. Kolam

Kolam bagian Selatan

Komplek kolam terbagi menjadi 2 bagian, bagian utara dan bagian selatan. Kedua bagian dipisahkan oleh sebuah dinding penyekat dan terhubung oleh sebuah pintu.

Kolam bagian utara

Komplek bagian utara terdiri dari 7 kolam, sedang komplek bagian selatan terdiri dari 28 kolam. Kolam-kolam inilah yang menjadi tempat pemandian para penghuni istana.

8. Goa

Goa Wadon

Setelah dari kolam, kita akan berjalan lagi menuju arah utara dan berjalan agak menanjak. Di sana kita akan mendapati sebuah goa, yang dinamakan Goa Wadon (wanita). Dinamakan demikian karena terdapat relief yang sedemikian rupa mewakili alat vital wanita (simbol Yoni) di atas pintu masuknya.

Goa Lanang

Berjalan lagi agak ke atas kita akan mendapati Goa Lanang (pria). Konon ditemukan sebuah peninggalan berbentuk alat vital pria (simbol Lingga). Kesatuan antara Yoni dan Lingga dianggap membawa kesuburan dan kesejahteraan. Diperkirakan goa-goa ini dahulunya dijadikan sebagai tempat bermeditasi.

Pada akhirnya, saya mencoba memahami bahwa situs-situs yang kita dapati itu, bisa saja disebut candi, sekalipun istilah candi pada umumnya dinisbahkan untuk tempat-tempat peribadatan. Karena pada awalnya tempat ini juga dijadikan sebagai wihara.

Dan setelah kami berkeliling menyusuri situs Ratu Boko, saya pun berkesimpulan bahwa ini adalah sebuah istana/keraton, karena lebih menyerupai tempat tinggal.

Versi yang terakhir adalah menurut versi Islam. Oleh seorang ilmuwan ahli matematika, Fahmi Basya, dikatakan bahwa Keraton Ratu Boko dahulunya adalah istana Ratu Balqis, hal ini dengan ditemukannya tulisan Bismillahirraanirrahim dalam lempengan emas yang terdapat dalam kolam di keraton Ratu Boko. Disinyalir bahwa lempengan emas itu berasal dari Nabi Sulaiman.

Kemudian istana Ratu Boko tersebut dipindahkan ke Candi Borobudur. Oleh karenanya candi Borobodur begitu sempurna, sedang di Ratu Boko yang tertinggal adalah pondasi-pondasinya saja. Kisah Nabi Sulaiman ini juga dikatakan tertera dalam relief-relief ukiran yang terdapat di dinding Candi Borobudur. Wallahu a’lam bishhawab.

Apapun itu, adalah persepsi yang boleh lahir dari setiap pemikiran manusia, di kala tidak mendapatkan kebenaran mutlak.

Namun satu hal yang pasti dari perjalanan saya kali ini adalah begitu luar biasanya peradaban dan kebudayaan serta nilai seni yang cukup tinggi yang dimiliki oleh manusia sejak zaman dahulu, sebagai makhluk ciptaan Allah yang begitu sempurna.

Allah juga telah memerintahkan manusia untuk berjalan di muka bumi, mengambil ibrah yang bisa kita petik.

“Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (Ali Imran : 137).

Ada sebuah ayat lagi yang cukup ajaib yang tiba-tiba mengisi ruang kepala saya. Yaitu kalimat “iqra”. Yang saya pahami bahwa perintah membaca bukan hanya membaca buku, tetapi juga membaca alam, membaca temuan-temuan, hasil penelitian, arkeologi, dan lain sebagainya.
Terimakasih ya Allah untuk pelajaran yang telah Engkau berikan pada hari ini.

Gudeg Yogya

Gudeg Mbah Cilik, Jl. Raya Tajem, Sleman, Yogyakarta

Selesai bertualang di Keraton Ratu Boko, rasanya saya masih ingin keliling kota Yogya lagi. Menikmati pemandangan alam yang sungguh memikat hati.

Namun, sepertinya untuk hari ini kami rasa cukup. Karena esok kami akan melakukan perjalanan ke Gunung Kidul.
Hari semakin siang, untung saja kami sudah melaksanakan sholat di musholla Ratu Boko. Saatnya mencicipi masakan khas Yogya. Tidak sah rasanya kalau tidak mencicipi kuliner khas kota ini yaitu Gudeg. Hampir di setiap sudut kota ada makanan khas ini. Dulu, saya pernah mencicipi gudeg di daerah Malioboro. Tempat yang sudah tidak asing lagi bagi para traveler.

Untuk kali ini, pilihan saya jatuh pada Gudeg Mbah Cilik.
Begitu masuk area rumah makan tersebut, langsung perut ini mulai bernyanyi mendendangkan lagu sendu.. 😄

1 porsi gudeg komplit dengan minuman wedang uwuh

Siapa yang tidak kenal gudeg? Makanan khas Yogya yang berbahan dasar buah nangka muda ini sangat legit dan gurih karena dimasak dengan bumbu-bumbu khas, ditambah gula kelapa (gula merah) dan santan. Juga ada ayam, telur, dan tahu sebagai pelengkap. Saya pun langsung memesan 1 porsi gudeg komplit. Sudah termasuk di dalamnya sambal goreng krecek (krupuk kulit), tumisan tempe, serta lalapan daun singkong. Dan rasanyaa.. jangan ditanya! Uenak tenaaan.. 😍

1 porsi gudeg komplit dihargai Rp. 30.000. Kita tinggal pilih, mau gudeg basah atau kering. Kalau yang kering katanya bisa bertahan sampai beberapa hari. Wah.. pas sekali untuk oleh-oleh.

Oh iya di sana juga tersedia menu lainnya seperti pepes ikan, tekleng, ceker mercon, dan lainnya.

Nah, jadi kapan anda ingin mampir ke Yogya?.. 😊

Maymunah MNC

Penulis adalah lulusan Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah, jurusan Tafsir Hadits. Kecintaannya pada dunia anak digelutinya dengan mengajar anak-anak sekitar rumahnya sejak ia masih Tsanawiyah, atau setingkat dengan SMP. Saat kuliah ia sempat mengajar di sebuah Tsanawiyah. Kini Maymunah tinggal di Jeddah, Saudi Arabia. Sempat menulis untuk Buletin Duta Bangsa yang diterbitkan masyarakat Indonesia di Saudi Arabia. Dalam sebuah kajian bertajuk: Iqra, Keummian Rasulullah, Serta Pengaruhnya Terhadap Masyarakat Luas. Kumpulan puisinya terangkum dalam buku koleksi pribadinya, Ku Ingin Menciummu. Saat ini bersama anak-anak didiknya yang ia beri nama Rabbbani Education Foundation tengah melakukan kegiatan menulis bersama, di sela-sela kegiatan belajar mengajar. Walau tinggal jauh dari tanah airnya, Maymunah bersama dengan keluarga besarnya tetap ingin menebar manfaat dengan mendirikan sebuah Pondok Pesantren di daerah Cirebon, dengan mengutamakan anak-anak yatim dan yang kurang mampu agar tetap dapat menuntut ilmu.

Related Posts