Mendidik Anak-Anak TKI Jeddah (2)

Mendidik Anak-Anak TKI Jeddah (2)

Jika pada tulisan sebelumnya adalah tentang ide yang bisa muncul di tengah keterbatasan mobilitas wanita yang tinggal di Saudi, berikut adalah kendala dan harapan Maymunah. Wanita yang mau membagi waktunya dengan anak-anak TKI di Jeddah yang profesi orang tua murid umumnya adalah supir dan asisten rumah tangga ini berbagi cerita dengan pembaca aMuslima.

aMuslima: Kendala apa yang dihadapi dengan mendidik anak-anak ini?

Maymunah: Kendala yang dihadapi, mungkin aku belum bisa memberikan fasilitas yang memadai seperti ruang untuk belajar, benda-benda untuk praktikum, serta rumah yang jauh dari lingkungan sekolah. Tapi aku mensyukuri semuanya, yang penting kami punya semangat, dimana pun kami belajar, kami akan nikmati.

Kalau kendala dari anak-anak, mereka tidak sebebas di Indonesia untuk bisa jalan sendiri, jadi mereka harus menunggu sampai ada yang bisa mengantar pergi ke tempat belajar.

Untuk hal pelajaran, aku tahu setiap orang atau anak punya kekurangan dan kelebihan. Dan aku berusaha untuk tidak melihat kekurangan itu, dalam arti mencemoohnya, karena aku yakin setiap anak pasti punya kelebihan. Dan kelebihan itu yang akan aku arahkan dan kembangkan, selagi aku mampu di bidang itu.

aMuslima: Harapan apa yang ingin terwujud saat ini?

Maymunah: Ada sebuah harapan besar yang entah kapan akan terwujud, karena aku tahu proses mendirikan sekolah di sini tidaklah mudah. Aku hanya berharap ingin punya home schooling.
juga memberikan ruang kepada mereka untuk dapat berekspresi dengan baik, mematangkan pelajaran atau bidang kegiatan yang paling disukainya, sehingga kita tinggal mengarahkannya.

Pemberian hadiah untuk peringkat hanya sebagai pancingan, tapi aku selalu menekankan kepada mereka untuk berupaya mendapatkan yang terbaik di bidang pelajaran yang paling mereka minati dan kuasai, agar nanti ke depannya mereka bisa mencapai cita-cita yang diharapkannya dari sekarang.

Maymunah bersama anak didik di Fakieh Aquarium Jeddah

Maymunah (jilbab biru di gambar kiri atas, baju merah di gambar kanan atas) bersama anak didik di Fakieh Aquarium Jeddah

aMuslima: Bagaimana cara membagi waktu dengan keluarga?

Maymunah: Kalau untuk mengatur waktu, jujur aku bukan orang yang disiplin banget, karena ada orang-orang di samping aku yang harus aku utamakan, jadi waktu buatku menjadi flexible, meskipun aku berusaha disiplin dengan diri sendiri. Yaa mencoba membagi waktu seperti membagi potongan cake. Kalau masih lapar?.. Ya ambil cake yang di sebelahnya, alias comot waktu sana sini, hahaha…

Waktu mengajar yang rutin hanya 2 kali dalam seminggu selama 4 jam, kalau ditambah dengan waktu kreasi menjadi -+6 jam. Terkadang ada penambahan hari belajar/kreasi, tergantung jadwal libur sekolah atau jadwal libur sekolah mengaji. Tapi kalau sedang ada ujian, kbm menjadi setiap hari, namun kreasi dan pembacaan ayat tematik dihentikan selama masa ujian.

Sehari-harinya, pagi-pagi menyiapkan sarapan dan bekal untuk anak dan suami. Kalau ada jadwal mengajar, masakan ditambah untuk makan bersama dengan anak-anak setelah selesai proses kbm

Saat anak ke sekolah, waktunya untuk beres-beres rumah. Masak, mencuci, atau menyetrika atau mengerjakan pesanan kreasi. Terkadang saat ide menulis muncul, pegang hp, terus tulis deh pokok pikirannya saja, terkadang sampai selesai juga, baru nanti dipindahkan ke PC.

Saat anak pulang sekolah, waktunya menemani makan, bermain, mengerjakan PR, sampai bobo siang. Nah, saat bobo siang ini, emaknya biasanya cuma pura-pura saja, kecuali kalau ketiduran yaa.. Itu lain cerita, hahaha..Biasanya sih langsung loncat, cepat-cepat mengerjakan pekerjaan yang belum selesai.

Kalau besoknya ada kbm, maka malamnya aku mempersiapkan materi untuk besok, menyiapkan tulisan yang juga harus tayang, dan kreasi yang harus diselesaikan. Semua ini tidak lepas dari dukungan dan izin suami.

aMuslima: Kebahagiaan apa yang didapat dengan aktivitas rutin ini?

Maymunah: Kalau ditanya tentang kebahagiaan yang didapat. Bahagia dan bersyukur karena diri ini masih bisa bermanfaat bagi orang lain. Bahagia bisa melihat perkembangan anak, saat pribadi mereka semakin membaik, saat mereka mulai bisa diandalkan, saat prestasi mereka juga membaik, saat mereka mampu menciptakan kreasi sendiri, saat mereka mampu memahami ayat-ayat Allah, saat mereka masih menyapa aku meskipun mereka telah jauh di sana. Intinya ada kebahagiaan batin tersendiri yang terkadang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata..Aaah.. Jadi sedih niiih..

Ibu sayang banget sama kalian.. :'(( :'((

***

Jangan menganggap bahwa bila kita dibatasi oleh fasilitas, peraturan yang ketat di negeri orang, kita menjadi jenuh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Selama kita mau belajar, menambah wawasan, keinginan untuk menjadi Muslimah yang produktif dan bermanfaat bagi banyak orang, tentu Allah SWT akan menyisipkan ide-ide ke dalam pikiran kita, Allah SWT akan memampukan kita agar berguna bagi orang-orang di sekitar kita. In shaa Allah.

Delina Partadiredja

Menulis sudah menjadi bagian hidupnya sejak masih duduk di bangku SD. Mulai SMA, Delina aktif menyumbangkan tulisannya di majalah sekolah dan majalah dinding. Setelah lulus SMA, Delina melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM Yogyakarta, kemudian MBA Finance di University of Leicester. Dunia jurnalistik dipelajari secara otodidak dan langsung terjun membuat tabloid saat masih kuliah berkolaborasi dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Delina sempat aktif menulis di Eramuslim.com, beberapa buku antologi telah diterbitkan seperti Menembus Batas Logika (eramuslim), Sedekah Senyum (bersama dengan Asma Nadia dan diterbitkan oleh Republika), dan the Muslimah Speaks (Mindswork Publishing). Kini Delina tinggal di Saudi Arabia. Bersama partnernya Gemi Hartojo dan didukung oleh para penulis yang berasal dari banyak negara membesarkan amuslima.com versi Bahasa Inggris serta indo.amuslima.com. Email: delina@amuslima.com FB: Delina Partadiredja Twitter: DelinaDelina Linkedln: Delina Partadiredja Skype: Delina Partadiredja

Related Posts