Mitos Seputar Mi Instan

Mitos Seputar Mi Instan

Banyak sekali bahasan tentang pro kontra ataupun mitos seputar mi instan yang beredar baik di media sosial maupun media lainnya. Padahal tidak bisa dipungkiri, hampir semua orang suka makan mi instan karena cita rasanya yang menggugah selera makan, baik saat sakit maupun sehat. Kita juga biasanya menggunakan mi instan sebagai salah satu bentuk bantuan ‘wajib’ untuk korban bencana alam, kelaparan, atau musibah lain karena mudahnya menyajikan mi instan dan praktis dalam kemasan. Lalu apa yang salah dengan mi instan ini?

Beberapa waktu lalu tim aMuslima mengunjungi pabrik mi instan produksi Pinehill Arabia Food Limited yang berada di kawasan industri di Jeddah, Arab Saudi. Acara yang diadakan oleh KJRI Jeddah ini diikuti oleh 50-an peserta yang tertarik untuk mendengar penjelasan dan melihat secara langsung pembuatan mi instan.

Zulfah Nahdliyati, istri konjen KJRI Jeddah, saat memberikan sambutan

Pinehill Arabia Food Limited merupakan perusahaan yang didirikan hasil kerjasama antara Salim Group dengan Saudi Based-Bawazir Group dan sudah memiliki pabrik mi instan (1995), pabrik food seasoning (2006), dan saus  (2010) di Jeddah. Sementara di Damam sejak tahun 2007 juga sudah berdiri pabrik mi instan, termasuk mi kemasan cup. Dengan mesin yang canggih, perusahaan ini dapat memproduksi 2 milyar paket mi instan per tahun, demikian disampaikan oleh Bambang Gunawan, Branch Manager Jeddah Factory.

Bambang Gunawan (kanan) dan Sudaryatna (kiri) ketika memberikan presentasi singkatnya

Indonesia bisa bangga dengan kehadiran mi instan produk dalam negeri yang sudah tersebar hampir di seluruh dunia ini. Pabrik-pabrik mi instan Indonesia otoritas Pinehill ini sudah berdiri di beberapa kawasan di Timur Tengah, Afrika Utara, serta Eropa Timur. Orang-orang Arab Saudi pertama kali mengenal mi instan halal umumnya dari khodimatnya yang makan mi instan, dan ternyata mereka tertarik mencicipi dan akhirnya menyukai rasa mi instan khususnya yang original seperti vegetable flavor.

Ketika aMuslima mengikuti tour dan melihat proses pembuatannya, kami bisa melihat dari jendela kaca langsung ke mesin-mesin raksasa yang terus beroperasi dari proses penuangan bahan mentah (terigu), pencampuran bahan, steaming, cutting & folding, frying, cooling, hingga ke packaging dan memasukkan mi kemasan ke dalam karton (cartoning) yang berisi 40 pak mi instan per karton. Mesin raksasa ini mampu memproduksi 72 ribu pak per jamnya. Bisa dihitung berapa pak mi instan yang diproduksi per minggu dan per bulan!

Salah satu proses pembuatan mi instan

Karena banyak pekerjaan manusia yang sudah dilakukan mesin, otomatis pekerjaan menjadi lebih efisien, lebih cepat, dan lebih terkontrol. Pinehill sendiri karyawannya tidak hanya warga Indonesia tetapi juga banyak warga Saudi, India, Pakistan, dan Bangladesh.

Tim aMuslima Jeddah

Beberapa mitos tentang konsumsi mi instan di kalangan masyarakat juga diajukan dalam session tanya jawab dengan pakar mi instan, Sudaryatna, dan pertanyaan lain yang saya kutip dari pakar pangan diantaranya Prof. F.G. Winarno, guru besar bidang pangan IPB, dalam bukunya “Panduan Tanya Jawab Tentang Mi Instan.”

1. Mi instan tidak mudah dicerna tubuh.

Dalam penjelasannya Sudaryatna menyebutkan bahan dasar pembuatan mi instan sama dengan bahan umum makanan lainnya seperti tepung terigu, air, dan beberapa jenis garam. Dikutip dari CNN Indonesia, Hardinsyah, ahli gizi dan guru besar IPB juga menyebutkan tidak benar mi sulit dicerna tubuh. Buktinya bila selesai makan mi instan, tubuh berenergi tidak lemas, artinya makanan tersebut dicerna dengan baik. Hanya saja memang tidak benar bila hanya mengonsumsi mi instan tanpa asupan gizi lain.

2. Air rebusan mi harus dibuang.

Mitos yang diterima banyak orang adalah harus membuang air rebusan mi dan mengganti dengan air baru karena tidak baik, ternyata merupakan cara memasak yang salah. Disamping itu dengan membuang air rebusan justru malah membuang zat-zat gizi dan vitamin yang larut bersama air, dan terbuang. Padahal vitamin dan zat-zat tersebut dibutuhkan oleh tubuh, demikian Sudaryatna menjelaskan.

3. Mengandung bahan pengawet.

Dalam proses pembuatannya mi instan melalui proses secara alami yaitu dengan pengeringan dalam hal ini penggorengan di suhu tinggi yang dapat membuat makanan tidak mudah busuk dan mikroba tidak dapat hidup. Selain itu menurut F.G. Winarno, kadar air dalam mi instan yang sangat rendah (hingga 3%) serta kandungan garam dapur yang terdapat dalam mi instan dapat membuat mi menjadi awet secara alami.

4. MSG dalam bumbu/seasoning membahayakan kesehatan.

Seperti dikutip dari F.G. Winarno, MSG atau Mono Sodium Glutamat sebetulnya banyak dijual dengan nama yang sudah akrab di telinga yaitu vetsin, moto, Sasa, Miwon, Ajinomoto, dan lain-lain. Tugas MSG adalah hanya sebagai peningkat citarasa yang enak dan menekan rasa dan bau yang tidak dikehendaki seperti menekan tajamnya bau bawang bombay atau bau tanah yang umumnya melekat pada kentang dan sayur-sayuran. Menurut CAC (Codex Alimentarius Commission), US-FDA (Food and Drug Administration), JECFA (Joint Expert Committee for Food Additives), Depkes dan BPOM, telah dicantumkan MSG dalam daftar Food Additive yang aman dan ketentuan ADI (Acceptable Daily Intake) nya adalah non specified atau memiliki derajat keamanan yang tinggi.

5.  MSG dibuat dari daging babi.

Banyak sekali persepsi yang tidak benar yaitu bila makanan itu enak, makanan tersebut kemungkinan besar mengandung babi. F.G Winarno menjelaskan bahwa MSG sendiri secara komersial merupakan produk alami bukan sintetik dan dibuat melalui proses fermentasi dengan menggunakan bahan produk alami nabati bukan hewani. Di Indonesia sebagian besar MSG menggunakan tetes atau molasses yang berasal dari limbah industri gula tebu.

Dalam kesempatan terpisah, manager dari Product Development Pinehill (yang tidak ingin disebut namanya) mengaku kepada aMuslima bahwa hampir setiap hari ia harus mencicipi mi instan karena pekerjaan (yang sudah digelutinya selama 25 tahun), dan merasa baik-baik saja. Ia harus bertanggung jawab terhadap perbaikan produk yang sudah ada, memberikan ide rasa baru, serta modifikasi produk sesuai kebutuhan atau selera yang berbeda di setiap negara.

Walaupun demikian tentu kita tetap harus mengimbangi makanan yang kita konsumsi. Prinsip gizi seimbang yaitu tidak hanya dengan mengonsumsi mi instan saja tanpa ada jenis makanan lain seperti makanan yang mengandung protein seperti ikan dan daging maupun vitamin dan zat-zat yang terkandung dalam berbagai macam sayuran dan buah-buahan. Disamping itu segala hal yang sifatnya berlebihan tentu tidak aman buat kesehatan oleh karena itu jangan mengabaikan keberagaman gizi makanan.

Delina Partadiredja

Menulis sudah menjadi bagian hidupnya sejak masih duduk di bangku SD. Mulai SMA, Delina aktif menyumbangkan tulisannya di majalah sekolah dan majalah dinding. Setelah lulus SMA, Delina melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM Yogyakarta, kemudian MBA Finance di University of Leicester. Dunia jurnalistik dipelajari secara otodidak dan langsung terjun membuat tabloid saat masih kuliah berkolaborasi dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Delina sempat aktif menulis di Eramuslim.com, beberapa buku antologi telah diterbitkan seperti Menembus Batas Logika (eramuslim), Sedekah Senyum (bersama dengan Asma Nadia dan diterbitkan oleh Republika), dan the Muslimah Speaks (Mindswork Publishing). Kini Delina tinggal di Saudi Arabia. Bersama partnernya Gemi Hartojo dan didukung oleh para penulis yang berasal dari banyak negara membesarkan amuslima.com versi Bahasa Inggris serta indo.amuslima.com. Email: delina@amuslima.com FB: Delina Partadiredja Twitter: DelinaDelina Linkedln: Delina Partadiredja Skype: Delina Partadiredja

Related Posts