Muhammad Luthfi Nurfakhri (Bagian ke 1), Remaja Indonesia Berprestasi Internasional

Muhammad Luthfi Nurfakhri (Bagian ke 1), Remaja Indonesia Berprestasi Internasional

Assalamualaikum wr wb pembaca aMuslima tercinta,

Senang sekali dalam aMuslima dapat berbagi cerita kembali dan kali ini mengenai pertemuan saya dengan Remaja Indonesia yang sangat hebat prestasinya.

Penampilannya tak jauh berbeda dengan pria muda seusianya. Namun Luthfi, begitu pria cerdas ini biasa dipanggil, prestasinya sudah melampaui kebanyakan pria seumur dengannya. Bayangkan saja, tahun 2008 saat masih duduk di bangku SMP, ia telah membawa pulang medali emas dari ajang International Exhibition for Young Inventors di Taiwan berkat Cooking Box, alat pengembang roti temuannya. Tak hanya itu, di saat Luthfi kelas 2 SMA, sukses kembali dicapai mahasiswa asal Bogor (Jawa Barat) ini di Pittsburgh (Amerika Serikat) dalam ajang International Science and Engineering Fair yang diikuti 70 negara. Dalam ajang ini, Digital Leaf Color Chart (DLCC) temuan Luthfi dihadiahi Grand Award dalam kompetisi yang diikuti 1100 penemuan dari seluruh dunia dan dinilai oleh 12 juri bergelar PhD serta seorang peraih Nobel Fisika tahun 2001! Masha Allah…

Luthfi saat menerima penghargaan IEYI tahun 2008

Luthfi saat menerima penghargaan IEYI tahun 2008

DLCC merupakan alat sensor tanaman untuk mendeteksi kebutuhan pupuk. Cara kerjanya, hanya dengan menempelkan alat sensor seperti barcode ke daun padi, maka akan tampil pada layar DLCC, ukuran pupuk yang harus disebarkan dalam hitungan kilogram per hektar. Dengan alat ini, petani dapat mengetahui berapa pupuk yang diperlukan tanaman secara lebih akurat daripada menggunakan perkiraan tradisional selama ini. Berdasarkan hasil percobaan terbukti, dengan menggunakan alat ini penggunaan pupuk lebih hemat 25 kh/ha dibanding menggunakan takaran berdasarkan perkiraan tradisional. Penemuan Luthfi ini bahkan mendapat penghargaan dari Angkatan Darat dan Marinir Amerika Serikat karena dinilai membawa kemaslahatan bagi orang banyak. Saat ini DLCC sedang dalam proses pendaftaran hak paten. Meski demikian, Luthfi masih terus menyempurnakan temuannya ini agar lebih ramping dan ringan hingga lebih nyaman digunakan. Luthfi mengaku, biaya pembuatan alat ini tak terlampau mahal, cukup Rp 900.000. Namun, proses penciptaannya amat sulit. Luthfi harus mengalami 135 kali kegagalan sebelum berhasil merancang alat yang tepat.

Luthfi kecil

Luthfi kecil

Luthfi lahir di Bogor pada tahun 1995, putra kedua dr. Iyus Hendrawan, M.Sc. asal Blitar dengan Endang Sri Rejeki S.Pd, S.Psi asal Bandung yang sampai saat ini masih berdomisili di Bogor, Jawa Barat. Ibunda Luthfi adalah seorang pendidik di Sekolah Dasar. Sedangkan Luthfi sendiri pada saat ini masih menjalankan studi di Belanda hasil beasiswa yang diterimanya tepatnya di kota Enschede.

Saya sempat bertemu dengan Luthfi di Indonesia pada liburan musim panas baru-baru ini, dan dia bercerita bagaimana kesehariannya sejak masa kecil hingga berhasil meraih prestasi di usia remajanya. Dari sudut pandang Luthfi sebagai anak, cara mendidik orang tuanya itu tidak menuntut namun mengarahkan serta terbiasa memberikan contoh. Mulai dari SD hingga SMA tidak pernah dituntut untuk mendapat ranking terbaik atau dituntut untuk ikut bermacam-macam bimbingan belajar, les-les privat lainnya seperti les piano atau les alat musik lainnya. Tapi orang tua Luthfi selalu memberikan contoh dan inspirasi-inspirasi dari orang sekitar bahwa rajin dalam belajar dan menuntut ilmu sambil berdoa akan membawa manfaat yang lebih besar.

Luthfi bercerita bahwa dia ingat sekali ketika SD selalu diceritakan kisah-kisah para ilmuwan Islam bagaimana mereka bisa menemukan sesuatu dan itu bisa bermanfaat bagi umat banyak. Di situ Luthfi sadar bahwa menjadi ilmuwan itu memang membutuhkan hal-hal dasar seperti rajin belajar, dan menumbuhkan rasa selalu ingin bertanya. Jadi di sini tidak ada kalimat yang pernah terlontar dari orang tua “kamu harus ini, kamu harus itu” atau “kamu harus jadi ini, jadi itu.” Tapi justru dengan memberikan contoh itulah yang membuat motivasi dalam menuntut ilmu itu selalu ada di dalam pikiran dan hati.

Di dalam kesehariannya, Luthfi sejak kecil memang senang melakukan percobaan untuk menemukan berbagai instrumen baru. Inspirasi temuannya didapat dari pengalaman sehari-hari. Seperti saat menciptakan Cooking Box, Luthfi terinspirasi kebosanannya menanti proses mengembangnya kue yang memakan waktu berjam-jam. Jangan heran, Luthfi memang gemar membuat kue bersama ibunya di rumah.

Begitu juga dengan penemuan DLCC, idenya muncul saat Luthfi bercita-cita meraih Nobel Fisika dan mendirikan perusahaan multinasional untuk membantu para petani kecil di seluruh dunia.  Di luar dugaan banyak orang, meski penampilannya kalem, ternyata Luthfi  sangat ramah dan humoris. (Bersambung)

 

 

Link tentang Luthfi:

https://indonesiaproud.wordpress.com/2012/06/29/muhammad-luthfi-nurfakhri-alat-pendeteksi-penggunaan-pupuk-buatannya-lebih-baik-lebih-murah-dari-produk-amerika-serikat/

http://serabi-indonesia.blogspot.com/2012/08/muhammad-luthfi-nurfakhri-penghargaan.html?m=1

Astrid Despiona

Penulis adalah ibu dari seorang puteri dan seorang putera. Memulai karirnya di bidang perbankan selama 13 tahun lalu memutuskan berhenti berkarir karena harus turut mendampingi suami tugas di luar negeri. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi penulis untuk dapat berbagi dan memberi inspirasi kepada orang lain. Kesehatan, pendidikan, musik, busana, dan berkebun adalah bidang yang diminatinya.

Related Posts