Pesona Ramadhan di Jeddah

Pesona Ramadhan di Jeddah

Jeddah sudah menjadi home town kedua bagi saya, bahkan masa menetap di Jeddah  lebih lama dari di Jakarta. Pesona Ramadhan dari tahun ke tahun memiliki keistimewaan tersendiri. Suasana religius dan kekhusu’an dalam beribadah meningkat di bulan suci Ramadhan diiringi KeberkahanNYA yang melimpah meliputi kehidupan hamba-hambaNYA yang beriman.

Bulan suci Ramadhan merupakan bulan penuh ampunan, rahmat dan pembebasan dari api neraka. Bulan berlomba-lomba meningkatkan keimanan melalui ibadah-ibadah dan amal sholeh. Kebanyakan dari kita bila mendengar kata Ramadhan pasti dikaitkan dengan puasa, sholat tarawih, qiyamul lail, sahur dan bulan turunnya kitab suci Al-Qur’an. Maka sedapat mungkin memperbanyak membaca Al-Qur’an dengan tajwid yang benar dan mengkhatamkannya.

Berbagai aktivitas dan aura religius mulai terasa seminggu sebelum Ramadhan, begitu juga troly-troly yang kita lihat pada pengunjung supermarket mulai dipenuhi berbagai belanjaan makanan. Mungkin yang baru pertama kali melihat, akan terlintas pertanyaan apakah tidak mubazir belanja segitu banyaknya? Lho sepertinya Ramadhan bukan bulan untuk puasa tapi untuk makan-makan! Ups, jangan salah duga dulu. Kebanyakan warga Saudi dan mukimin yang tinggal di Saudi Arabia khususnya Jeddah, gemar mengundang keluarga, kerabat, bahkan teman untuk berbuka puasa bersama di rumah dan bersedekah makanan ke mesjid-mesjid atau membagi-bagikan kepada fakir miskin di luar rumahnya. Jadi memasak makanan pun malah diluar kebiasaan sehari-hari. Semua dilakukan untuk menggapai Ridha Allah tentunya.

Ramadhan tahun ini bertepatan dengan liburan sekolah, untuk sekolah pemerintah cukup lama liburan kali ini yang dimulai dari awal Ramadhan sampai pertengahan bulan Dzulhijjah, Wuiih lama sekali ya. Sedangkan sekolah internasional masa liburnya sedikit lebih pendek. Sehingga di siang hari, keadaan menjadi lebih sepi karena hanya yang bekerja dan mempunyai keperluan yang ke luar rumah, jadi jalanan pun lebih lengang dari biasanya.  Apalagi udara panas dan jangka waktu puasa yang cukup lama lebih kurang 15 jam, membuat enggan keluar di siang hari kalau tidak ada keperluan.

Jadi dimana pesona Ramadhan-nya?

Di siang hari, bisa dikatakan aktivitas rutin tapi  berbeda. Bedanya dimana? Jadwal jam kerja yang berubah di Bulan Ramadhan, dimana jam masuk lebih siang dan jam pulang lebih cepat. Pemerintah memberi kelonggaran dan kesempatan untuk dapat beristirahat dan memperbanyak ibadah di bulan suci ini.

Untuk ibu-ibu rumah tangga seperti saya, kesempatan membaca dan mentaddaburi Al-Quran menjadi lebih banyak, tidak perlu buru-buru masak, karena jam berbuka nya jam 7 malam. Demikian juga dengan aktivitas lainnya yang lebih memiliki ruang geraknya. Puasa bukan berarti bermalas-malasan bukan?

Ramadhan di malam hari, memberikan pesona yang luar biasa. Gemerlap lampu sepanjang jalan dan umat Islam berbondong-bondong melangkahkan kaki ke mesjid adalah pemandangan yang menyentuh qalbu. Semua tampak gembira, wajah-wajah yang memancarkan cahaya Ramadhan.

Bersabda Rasulullah saw. :

“Barangsiapa bergembira dengan datangnya Bulan Ramadhan diharamkan oleh Allah api neraka menyentuh jasadnya“.

Sejak zaman Nabi Muhammad Shallah ‘alaihi wasallam hingga kini, umat Islam menghidupkan malam Ramadhan dengan shalat tarawih. Tarawih berasal dari bahasa Arab berarti waktu sesaat untuk istirahat.  Dinamakan demikian, karena para jamaah shalat tarawih beristirahat setiap kali usai empat rakaat. Selain itu, tarawih berarti juga kita beristirahat dari segala aktivitas selain menghadap Allah, mereguk energi ilaihiah, dan bersujud di haribaan-Nya.

Shalat tarawih hukumnya sunnah. Rasulullah Saw. bersabda:

“Siapa saja yang mendirikan shalat di malam Ramadhan penuh dengan keimanan dan harapan maka ia diampuni dosa dosa yang telah lampau,” (Muttafaq ‘alaihi).

Subhanallah, disetiap mesjid di Jeddah begitu penuh dengan jama’ah  laki-laki dan wanita. Hampir disetiap mesjid dihidangkan hidangan berbuka puasa dan juga hidangan sahur. KeberkahanNYA melimpah ruah dari para dermawan yang membelanjakan hartanya di jalan Allah.

Menjelang azan Isya, biasanya jama’ah sudah berbondong-bondong ke mesjid. Di beberapa mesjid, disediakan ruangan khusus jama’ah wanita dan biasanya harum, ternyata karpetnya di olesi ‘ith’r sejenis minyak wangi khas Arab tanpa alkohol yang wanginya enak. Jadi pas sujud harumnya menempel di kening dan telapak tangan kita. Hmm bisa jadi menambah khusuk saat berdoa dalam sujud, atau bisa jadi malah mikir ini minyak wangi apa ?.. Astaghfirullah. Didalam ruangan itu ada lagi ruangan khusus berpintu, khusus untuk ibu-ibu yang membawa anak-anak kecil. Jadi kalau nangis dan rewel tidak mengganggu jama’ah lainnya.

Pernah kejadian di mesjid lain yang lebih kecil (di dekat rumah), dimana tidak ada ruangan khusus untuk ibu-ibu yang bawa anak kecil, saat anaknya nangis atau rewel, mengganggu jama’ah lain, jadi selesai sholat kasihan sekali ibu-ibu itu ditegur jama’ah untuk tidak bawa anak saat sholat tarawih di mesjid. Sholat terawih memang lama, dengan ruku’ dan sujud yang lama/panjang, mungkin anak-anak menjadi bosan dan rewel.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم– « لاَ تَمْنَعُوا نِسَاءَكُمُ الْمَسَاجِدَ وَبُيُوتُهُنَّ خَيْرٌ لَهُنَّ ».

Artinya: “Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jangan kalian larang istri-istri kalian untuk pergi ke masjid, tetapi rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka”. (HR. Abu Daud dan dihasankan di dalam kitab Irwa Al Ghalil, no. 515).

Berbuka puasa di luar rumah dengan keluarga, kerabat atau teman-teman di restoran yang memberikan harga khusus dan menu menggugah selera merupakan pesona Ramadhan tersendiri, membuka ajang kebersamaan dan silaturahmi lebih erat.

Jalan-jalan di malam Ramadhan seusai tarawih banyak dilakukan penduduk dan pendatang di Jeddah, disini pesona malam Ramadhan tampak jelas. Selain supermarket, mall, toko-toko berhias dengan dekorasi khas Ramadhan, warna warni, menambah semaraknya suasana Ramadhan yang berbeda dengan bulan-bulan lainnya, ada juga yang memberikan harga-harga diskon. Berbagai minuman dan makanan khas Arab ada dimana-mana disetiap sudut dan jalan.

Satu tempat yang patut dikunjungi di Jeddah adalah Balad. Balad, daerah pusat kota Jeddah, merupakan salah satu tempat favorit bagi banyak orang untuk dikunjungi selama bulan Ramadhan karena suasana meriahnya. Lampu berkilauan, dekorasi yang indah yang khusus disiapkan untuk bulan suci ini  meningkatkan keindahan daerah tersebut.

Kemeriahan di sudut Old Jeddah, Balad

Balad di malam hari sangat ramai, dimana pengunjung dapat menikmati kios tradisional dan budaya serta pameran di “Ramadana Kida” (artinya: Ramadan Kami Seperti Ini). Pengunjung biasanya senang membeli dan mengantri di sekitar warung makan untuk menikmati hidangan lezat seperti baleela (yang isinya kacang cheakpeas dan acar dengan kuah rasa asam) dan kibda  (oseng-oseng hati sapi, kambing ataupun onta) yang merupakan jajanan khas, seperti kalau di Indonesia, bakso atau kerak telor. Balad seperti pusat festival saat Ramadhan untuk berbagai kalangan masyarakat, suatu platform hiburan untuk semua.

Festival ini mencakup aktivitas komersial, sosial, budaya, agama, olah raga, lingkungan dan warisan budaya Hijazi dengan tujuan mempromosikan sebagai rumah budaya, sastra, dan sejarah Arab dan Islam, sambil mempertahankan warisan dan kekayaan budayanya. Perpaduan budaya harmonis dan cosmopolitan di Jeddah.

Beberapa tempat yang populer adalah souk (pasar) emas, rumah Naseef, Museum Kota Jeddah, rumah Sharbatly, masjid Al Shafei dan Juffali. Biasa dipenuhi pengunjung usai sholat tarawih.

Air Mancur dan Bendera Raksasa di tengah kota Jeddah

Pesona malam Ramadhan di sepanjang jalan corniche dapat dinikmati dengan berbagai pemandangan yang indah seperti air mancur tertinggi di Jeddah, tiang bendera tertinggi dengan bendera yang berkibar megah bertuliskan Laa ilaha illAllah, atau bila melalui Malik Road dapat melihat pundi-pundi (guci besar bergantungan), bundaran bola dunia dan lain sebagainya.

Inilah sebagian pesona Jeddah di malam hari di bulan Ramadhan. Keindahan ukhrawi dan duniawi. Subhanallah, Taqaballallah shiyamana wa shiyamakum, ‘A’malana wa ‘A’malakum. Aamiin Ya Rabb.

Qathrun Nada Djamil

Setelah menyelesaikan S1 nya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Qathrun Nada Djamil menetap di Jeddah-Saudi Arabia bersama suami, 3 orang putra dan seorang putrinya. Kemudian menyelesaikan diploma Business English di Business Training Limited –England. Membaca adalah hobbynya dan mulai menulis secara otodidak di note Face Book kemudian bergabung dengan aMuslima.com pada tahun 2011. Awal tahun 2015 Qathrun Nada Djamil menjadi salah satu editor buku Apa judul buku ini karya Tupon Dj.

Related Posts