Puasa bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Puasa bagi Wanita Hamil dan Menyusui

Sebelumnya pernah disebutkan dalam suatu haditsh dari lima perawi dan Tirmidzi bahwa wanita yang sedang hamil atau menyusui boleh berbuka puasa. Boleh juga berbuka sekalipun yang menjadi sebab adalah soal anak. Misalnya seorang wanita hamil khawatir akan keselamatan bayi yang sedang dikandungnya atau wanita menyusui yang khawatir akan kesehatan anak yang disusuinya maka ia boleh berbuka.

Sebagian ulama mengatakan bahwa wanita hamil dan menyusui itu boleh berbuka puasa dan memberi makan kepada fakir miskin, tanpa berkewajiban mengqodho puasa yang ditinggalkannya, kecuali kalau mau dia boleh mengqadha tanpa harus memberi makan fakir miskin, demikian pendapat Ishak. Sedang Al-Auzai, Az-Zuhri, Asy-Syafi’I mengatakan, yang wajib justru qadha nya, bukan kifaratnya.

Bagaimana pendapat para ulama lain?

Menurut ulama Maliki, wanita hamil dan menyusui bila khawatir terhadap dirinya sendiri atau diri anaknya atau keduanya maka boleh tidak berpuasa dan wajib mengqadha puasanya kelak. Bagi wanita hamil tidak diwajibkan membayar fidyah, bagi wanita yang menyusui wajib membayarnya.

Yang dimaksud wanita menyusui boleh berbuka adalah bila hanya dia seorang yang bisa menyusui anak tersebut, tidak ada orang lain. Atau kalaupun ada, si bayi hanya mau dengan ibunya. Bila masih ada orang lain yang sanggup menyusui anak tersebut, maka si ibu tak boleh berbuka.

Mazhab Hanafi berpendapat bahwa bila wanita hamil atau menyusui cemas akan timbul bahaya bila berpuasa, maka boleh mereka berbuka, baik kecemasan itu atas dirinya sendiri atau atas anak, atau keduanya.

Bila mampu, menurut Hanafi mereka wajib mengqadha puasa tanpa harus membayar fidyah. Ketika puasa qadha tidak wajib berturut-turut.

Madzhab Hanbali mengatakan dibolehkannya wanita hamil dan menyusui untuk tidak berpuasa, apabila mereka khawatir akan timbulnya bahaya atas dirinya dan anak sekaligus atau atas diri mereka saja. Mereka hanya berkewajiban melakukan qadha tanpa fidyah.

Adapun kalau kekhawatiran itu hanya kepada diri anak saja, maka selain qadha juga wajib fidyah.

Madzhab Syafi’I berpendapat bahwa wanita hamil dan menyusui apabila khawatir akan membahayakan dirinya, atau anaknya, atau keduanya bila berpuasa, maka wajib atasnya berbuka. Mereka wajib mengqadha di hari lain. Hanya saja bila kekhawatiran hanya ditujukan kepada anak saja, maka selain qadha juga wajib membayar fidyah.

Kesimpulannya dari semua madzhab adalah berbuka puasa bagi wanita hamil dan menyusui boleh saja bila mereka khawatir akan keselamatan dirinya atau anaknya. Adapun masalah harus qadha atau fidyah bisa diambil salah satu dari pendapat beberapa madzhab di atas.

Wassalam, Ramadan Kariem

Fiqhul Mar’ah Al-Muslimah by Ibrahim Muhammad Al-Jamal

Delina Partadiredja

Menulis sudah menjadi bagian hidupnya sejak masih duduk di bangku SD. Mulai SMA, Delina aktif menyumbangkan tulisannya di majalah sekolah dan majalah dinding. Setelah lulus SMA, Delina melanjutkan kuliah di Fakultas Ekonomi, UGM Yogyakarta, kemudian MBA Finance di University of Leicester. Dunia jurnalistik dipelajari secara otodidak dan langsung terjun membuat tabloid saat masih kuliah berkolaborasi dengan teman-teman yang memiliki hobi yang sama. Delina sempat aktif menulis di Eramuslim.com, beberapa buku antologi telah diterbitkan seperti Menembus Batas Logika (eramuslim), Sedekah Senyum (bersama dengan Asma Nadia dan diterbitkan oleh Republika), dan the Muslimah Speaks (Mindswork Publishing). Kini Delina tinggal di Saudi Arabia. Bersama partnernya Gemi Hartojo dan didukung oleh para penulis yang berasal dari banyak negara membesarkan amuslima.com versi Bahasa Inggris serta indo.amuslima.com. Email: delina@amuslima.com FB: Delina Partadiredja Twitter: DelinaDelina Linkedln: Delina Partadiredja Skype: Delina Partadiredja

Related Posts