Semangat Beribadah Di Tengah Keterbatasan Fisik

Semangat Beribadah Di Tengah Keterbatasan Fisik

Suara azan memecah keriuhan di lantai dua sebuah rumah di kawasan Mangkuyudan, Solo, akhir Agustus lalu. Taufik Windu Asmoro dan kawan-kawan sesama tuna netra bergegas meninggalkan kesibukan mereka dan berjalan perlahan menuju tempat wudhu. Lalu mereka menempatkan diri untuk salat berjamaah.

Kuat Mardiyanto yang juga seorang tuna netra menjadi imam salat jamaah. Sebelum memulai salat zuhur Kuat menghadap ke arah makmum sambil meminta agar merapatkan shaf. Selesai salat, Kuat memberikan tausiah singkat yang didengarkan dengan seksama oleh para jamaah salat zuhur yang semuanya penyandang tuna netra.

Mereka tampak sangat bersemangat beribadah meski mengalami keterbatasan fisik. Ya, kekurangan fisik bukan halangan bagi para penyandang tuna netra ini untuk beribadah dan mendalami agama Islam. Mereka rutin mengadakan pengajian sebulan sekali di Yayasan Al-Ikhwan, Mangkuyudan, Solo.

“Biasanya kami mendatangkan ustadz untuk mengisi tausiah tapi jika tidak ada ustadz maka pak Kuat yang mengisi tausiahnya,” beber Taufik yang dipercaya mengurus Yayasan Al Ikhwan kepada indo.amuslima.

Pengajian rutin yang digelar pada minggu keempat setiap bulannya ini sekaligus digunakan sebagai sarana silaturahmi para penyandang tuna netra di Solo. Selain itu mereka juga berkumpul untuk kegiatan simpan pinjam yang berbasis syariah.

Kegiatan simpan pinjam semacam ini sangat membantu mereka mendapatkan uang pinjaman ketika terdesak kebutuhan. Cicilannya ringan dan tenor pelunasan hingga dua tahun. Namun karena terbatasnya dana, pinjaman maksimal hanya Rp 2 juta per anggota. Bagi mereka keberadaan simpan pinjam ini sangat membantu mengingat sulit bagi penyandang disabilitas seperti mereka mendapatkan pinjaman dari bank komersil.

Menurut Taufik, ada sekitar 35 penyandang tuna netra yang aktif mengikuti kegiatan di Al Ikhwan. Selain pengajian dan kegiatan simpan pinjam, ada kegiatan belajar membaca Alquran braille. Yayasan ini memiliki 10 set Alquran braille, di mana satu set Alquran braille terdiri dari 30 buku. Satu buku berisi satu juz Alquran.

Alquran braille

Alquran braille

Bagi tuna netra yang tidak memiliki Alquran di rumah, mereka bebas menggunakan Alquran braille di Al Ikhwan dan bertadarus di lantai dua gedung yayasan. Bagi yang ingin belajar membaca Alquran braile juga bisa belajar di Al Ikhwan. Taufik dan Kuat merupakan guru mengaji Alquran braille di Al Ikhwan. Mereka mengajar tanpa upah.

Ada 30 buku dalam satu Alquran braille, di mana masing-masing buku memuat satu juz.

Ada 30 buku dalam satu Alquran braille, di mana masing-masing buku memuat satu juz.

Sekitar dua tahun lalu anak-anak SLB A Yayasan Kesejahteraan Anak Buta atau YKAB Solo setiap Minggu, kecuali minggu keempat, rutin belajar membaca Alquran braille di Al Ikhwan. Sayangnya sekarang kegiatan itu tidak lagi rutin dilakukan.

Taufik mengatakan sebelumnya Al Ikhwan menggandeng guru agama Islam di YKAB untuk mewajibkan para murid mengikuti TPA braille di Al Ikhwan. Namun karena sistem pendidikan sekarang berubah menjadi sekolah inklusi, Taufik mengaku pihaknya kesulitan mengkoordinasi anak-anak tuna netra untuk rutin setiap Minggu belajar membaca Alquran braille. “Sekarang selonggar dan semaunya anak-anak saja untuk belajar membaca Alquran braille di sini,” kata Taufik yang mengalami low vision sejak kanak-kanak.

Dua tahun lalu penulis pernah beberapa kali mengunjungi TPA Alquran braille di Yayasan Al Ikhwan. Saat itu penulis melihat belasan anak tampak giat membaca Alquran braille. Ada juga penyandang tuna netra dewasa yang belajar membaca Alquran braille di sana. Dimentori Kuat Mardiyanto, mereka melafalkan ayat suci Alquran sambil jari jemari mereka meraba titik titik tonjol di lembaran kertas putih dari Alquran berhuruf braille. Sesekali Kuat mengoreksi ketika muridnya salah membaca. “Kami akan terus mencoba menggalakkan kegiatan membaca Alquran braile di sini,” ucap Taufik.

Aeranie Nur Hafnie

Dunia jurnalistik pernah ditekuni perempuan yang akrab disapa Ranie selama 10 tahun. Alumnus Ilmi Komunikasi FISIP UNS ini pernah menjadi jurnalis surat kabar di Solo dari tahun 2004 hingga 2015. Dia suka travelling dan selalu terpesona dengan keindahan pantai, alam bawah laut dan senja.

Related Posts