Menghindari Restoran Cepat Saji di Kanada

Menghindari Restoran Cepat Saji di Kanada

Mencari makanan halal biasanya menjadi permasalahan yang kerap dihadapi seorang muslim ketika melakukan kunjungan di negara non-muslim seperti misalnya Kanada. Ketika mengunjungi Kanada para muslim sebaiknya menghindari restoran cepat saji atau fast food.

Kenapa menghindari makanan cepat saji? Karena sebagian besar menunya menggunakan bacon yang berasal dari daging babi dan kebanyakan tidak bersertifikat halal.

Tari, pekerja muslim di Jakarta, pada akhir tahun lalu berkesempatan mengunjungi ibukota Kanada, Ottawa. Selama 10 hari Tari mengikuti pelatihan yang diadakan kantor pusat tempatnya bekerja. Sebelum berangkat Tari mengaku sempat berselancar di dunia maya mencari referensi makanan halal di Ottawa. Namun tak banyak referensi yang dikantonginya.

Tari mengaku selama di pesawat maupun saat di Toronto berusaha sebisa mungkin mengonsumai makanan halal. Dimulai dari pesawat menuju Jepang Tari lebih memilih bento set non meat. Kemudian di pesawat menuju Toronto dia memilih menu beef. Saat berada di tempat tujuan Ottawa Tari memilih menghindari makanan yang tidak mengandung bacon yang berasal dari daging babi.

Perempuan berkacamata ini mengaku mendapatkan saran dari resepsionis hotel tempatnya menginap untuk menghindari makan di restoran fast food atau restoran cepat saji. “Kebanyakan restoran fast food disana menjual burger berisi bacon. Karena itulah selama disana saya menghindari makan di restoran cepat saji,” cerita Tari kepada indo.amuslima.

Selama di Ottawa Tari pun memilih makan di beberapa restoran internasional, di restoran hotel dan makan di kantor pusatnya yang menyediakan makanan halal. Tari mengaku cenderung memilih menu makanan “aman” berbahan ikan, ayam dan sayur-sayuran. Namun dia sempat salah pilih restoran dan menu makanan saat kali pertama tiba di Ottawa.

“Saat itu saya baru sampai di Ottawa. Saya tiba disana sudah malam dan perut saya sangat lapar. Akhirnya saya makan di restoran Meksiko dan memilih menu chicken soup dengan nasi. Tapi rasanya sangat tidak enak, tidak cocok dengan lidah saya. Akhirnya saya tidak melanjutkan makan dan hanya makan coklat,” kisahnya.

Menu sarapan yang sama setiap hari selama di Ottawa, Kanada.

Menu sarapan yang sama setiap hari selama di Ottawa, Kanada.

Sementara karena takut mengonsumsi makanan yang tidak halal, Tari mengaku setiap pagi sarapan dengan menu yang sama di restoran hotel. Dia memilih sandwich telur dan keju, kue kentang dan buah-buahan. “Di restoran hotel mereka memisahkan panggangan untuk bacon dan sandwich jadi saya tidak terlalu khawatir tentang kehalalannya. Rasanya memang bosan makan dengan menu sarapan yang sama setiap hari tapi saya harus makan banyak jika tak ingin mengalami hipotermia karena suhu saat itu berkisar 6 derajat sampai minus 3 derajat celcius,” ujarnya.

Salah satu menu halal yang disediakan saat pelatihan di Ottawa, Kanada.

Salah satu menu halal yang disediakan saat pelatihan di Ottawa, Kanada.

Tari juga mengaku cukup beruntung kantor pusatnya menyediakan makanan halal. “Panitia pelatihan sebelumnya mengirim kuisioner dan didalamnya ada beberapa pertanyaan mengenai agama dan makanan yang diharapkan peserta. Jadi di kantor pusat saya tersedia makanan halal selama pelatihan,” ujar Tari.

Saat di Ottawa Tari juga sempat mencicipi camilan legendaris di Kanada, Beavertails di Byward Market Downtown. Beavertails menyediakan menu pastry hangat dengan berbagai macam pilihan topping. Tari memilih rasa apple and cinnamon yang menurut pelayannya merupakan menu paling favorit d Beavertails.

Menunggu antrean di gerai camilan legendaris di Kanada, Beavertails.

Menunggu antrean di gerai camilan legendaris di Kanada, Beavertails.

Sementara itu, bagi muslim yang akan berkunjung ke Kanada bisa mendapatkan referensi mengenai produk makanan halal maupun restoran halal di beberapa website seperti canadian halal foods  dan muslim consumer group. Sementara untuk referensi perusahaan makanan atau restoran yang sudah mengantongi sertifikat halal bisa dicek di website ifancc.

Sebagai muslim mengonsumsi makanan halal dan thoyib diserukan Allah (SWT) dalam surat Al-Baqarah ayat 172-173:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah. Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Baqarah 172-173).

Aeranie Nur Hafnie

Dunia jurnalistik pernah ditekuni perempuan yang akrab disapa Ranie selama 10 tahun. Alumnus Ilmi Komunikasi FISIP UNS ini pernah menjadi jurnalis surat kabar di Solo dari tahun 2004 hingga 2015. Dia suka travelling dan selalu terpesona dengan keindahan pantai, alam bawah laut dan senja.

Related Posts