Muhammad Luthfi Nurfakhri (Bagian ke 2), Prestasi dan Didikan Orang Tua

Muhammad Luthfi Nurfakhri (Bagian ke 2), Prestasi dan Didikan Orang Tua

Luthfi bercerita bahwa sejak kelas 4 SD dia sudah menyukai dunia experimen. Pada saat itu Luthfi ingin sekali membeli bola kaki. Luthfi langsung meminta uang jajan lebih kepada orang tua dan minta izin membeli bola. Namun ibu tidak mengizinkannya entah kenapa. Sang ibu hanya memberi saran kalau Luthfi ingin punya uang untuk beli bola sendiri ada caranya selain minta kepada orang tua. Lalu Luthfi diminta pergi ke sebelah rumah, di sana ada pabrik gypsum yang digarap oleh tetangga. Nah disitu ibu minta Luthfi berpikir apakah ada yang bisa dimanfaatkan di pabrik gypsum tersebut. Akhirnya, tanpa ada petunjuk dari orang tua, Luthfi bertanya ke pegawai yang kerja di sana mengenai apa itu gypsum dan apa saja yang bisa dibuat dari gypsum. Akhirnya Luthfi terbersit ide untuk membuat kerajinan tangan seperti kelereng dari gypsum yang sudah tidak terpakai karena pada saat itu sedang musim main kelereng. Kemudian hasil kerajinan tangan tersebut Luthfi jual ke teman-temannya. Alhamdulillah ternyata laku juga dan uang hasil penjualan itu terkumpul untuk membeli bola kaki yang Luthfi inginkan tanpa harus meminta uang kepada orang tua.

Luthfi bersama keluarga

Luthfi bersama keluarga

Cerita ini selalu diingat karena Luthfi merasa ini menjadi awal dari tumbuhnya rasa ingin tahu serta konsep “tidak ada yang instan yang baik untuk jangka waktu lama.” Bagi Luthfi orang-orang yang memotivasinya dalam berkarya adalah orang tua, kakak, dan guru-guru sekolah terkait. Sementara waktu di SMP, orang yang bisa meyakinkan Luthfi untuk mendaftar ikut lomba karya ilmiah tingkat nasional dan internasional adalah Bapak Aqwin Polosoro (guru Kimia) dan Bapak Ari Ariansyah (Guru Matematika) yang selalu menjadi guru bagi Luthfi. Hingga sekarang mereka selalu menjadi pembimbing Luthfi baik untuk urusan dunia maupun akhirat. Terutama Bapak Ari, beliau adalah guru liqo/tarbiyah Luthfi.

09belanda

Luthfi di Belanda

Untuk ke depannya hal-hal yang ingin Luthfi lakukan yaitu pertama, tidak pernah berhenti dalam berkarya dimanapun berada dan kapanpun itu, serta karya yang diciptakan harus bermanfaat bagi umat yang lebih luas. Ke dua, Luthfi ingin melanjutkan terus studinya hingga jenjang PhD lalu post doctoral. Rencananya ingin sekali mengambil gelar S2 di UK, Imperial College London lalu S3 di Univeristy of Texas di Austin. Semoga dengan itu bisa membawa Luthfi mendapatkan Nobel di bidang Fisika karena selama ini orang Indonesia belum pernah ada yang mendapatkannya. Semoga Luthfi bisa menjadi salah satu yang bisa membanggakan Indonesia kelak. Aamiin YRA.

Lalu apa  pendapat Luthfi tentang pendidikan di luar negeri terutama di Eropa tempat Luthfi belajar serta cara bergaul pelajar di luar negeri dibandingkan para pelajar di Indonesia?

Menurut Luthfi, banyak hal yang bisa diambil sebagai contoh dari sistem pendidikan yang ada di Eropa serta kebiasaan yang dilakukan oleh mahasiswa/i nya. Sistem pendidikan yang digunakan di Eropa memang dirancang sedemikian rupa sehingga mahasiswa/i tidak terbiasa  menghafal, namun lebih untuk memahami. Di Indonesia sendiri, para pelajar terbiasa dengan menghafal rumus-rumus yang diberikan oleh guru. Oleh karena itu dengan beban harus menghafal, mereka mengesampingkan pemahaman terhadap rumus-rumus pelajaran eksakta. Ini sangat terasa ketika Luthfi pertama kali datang ke Belanda dan akhirnya oleh dosen benar-benar ditanya kenapa rumus ini begini, alasannya apa yang membuat rumus ini masuk akal, dan Luthfi hanya bisa menjawab karena ini yang saya hafal. Mulai dari situ Luthfi akhirnya mengganti kebiasaan buruk menghafal dengan memahami rumus dan membiasakan menurunkan rumus tanpa menghafal produk akhir dari rumus tersebut dengan kaidah-kaidah matematis. Kemudian open-mindednya dosen yang Luthfi rasa sangat berbeda. Di Belanda, dosen yang terbuka untuk dikritik di depan kelas, diinterupsi oleh siswanya yang ingin bertanya walaupun masih di tengah presentasi materi kuliah. Sehingga membuat siswa siswi yang berada di kelas meninggalkan ruangan tanpa ada pertanyaan yang dipendam sendiri. Hal ini bisa berjalan mulus karena mahasiswa/i merasa tidak malu untuk bertanya dan berdebat dengan dosen. Mereka tidak merasa bodoh jika bertanya di depan khalayak umum. Karena memang bertanya itu adalah satu cara agar orang lain menjawab ketidakpahamannya.

Delegasi Indonesia ke Intel ISEEF, USA 2012

Delegasi Indonesia ke Intel ISEEF, USA 2012

Pergaulan mahasiswa/i Indonesia di tempat Luthfi kuliah saat ini di Enschede, NL cukup baik, artinya kami solid untuk saling membantu satu sama lain agar bisa survive di negeri orang selama masa studi. Luthfi saat ini menjabat sebagai ketua dari Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda yang mana PPI menaungi mahasiswa/i Indonesia yang sedang berada di luar negeri. PPI ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa/i, manfaatnya antara lain sebagai wadah mahasiswa/i jika terjadi hal-hal darurat. Komunikasi dengan pihak kedutaan serta keluarga di Indonesia pun dapat dibantu oleh PPI. Kemudian PPI di sini menjadi wadah bertukar pikiran dalam mengkaji ilmu sesuai dengan latar belakang ilmu para pelajarnya dan diharapkan kajian ini dapat memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi Indonesia. Selain itu dapat menjadi pengobat rindu bagi mereka terhadap Indonesia. Kegiatan lainnya selain kumpul bersama adalah masak memasak khas Indonesia dan membuat acara The Indonesian Food Festival.

Dibandingkan dengan pergaulan pelajar di Indonesia memang banyak yang berbeda. Kami di sini bergaul dengan banyak tantangan lingkungan yang kurang kondusif  (dalam arti banyak budaya barat yang kurang sesuai untuk diterapkan) yang mendominasi di sekitar kita. Sehingga filter nya memang harus dari diri sendiri, harus lebih kuat karena jauh dari orang tua dan tidak ada saudara yang menemani kita, hanya yakin bahwa Allah Maha Melihat dan Mengawasi kapanpun dimanapun. Di Indonesia, menurut Luthfi jelas lebih kondusif karena budaya timur yang relatif masih melekat di lingkungan sekitar serta ada orang-orang dekat yang mengayomi kita.

Semoga Luthfi berhasil mencapai cita-citanya dan dapat mengharumkan nama bangsa kita tercinta, Indonesia. Aamiin YRA

Astrid Despiona

Penulis adalah ibu dari seorang puteri dan seorang putera. Memulai karirnya di bidang perbankan selama 13 tahun lalu memutuskan berhenti berkarir karena harus turut mendampingi suami tugas di luar negeri. Suatu kebahagiaan tersendiri bagi penulis untuk dapat berbagi dan memberi inspirasi kepada orang lain. Kesehatan, pendidikan, musik, busana, dan berkebun adalah bidang yang diminatinya.

Related Posts