Catatan dari Hakone, Jepang (2)

Catatan dari Hakone, Jepang (2)

Bagi yang pernah ke daerah Hakone di Kanagawa perfektur Jepang, pasti sudah tidak asing lagi dengan  pemandangan yang luar biasa di segala musimnya di tempat ini. Dari Tokyo ke Hakone dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam dengan mengendarai bis yang berada di stasiun bis Odakyu Sinjuku – Tokyo dan tujuan stasiun Togendai – Hakone. Tiket keberangkatan PP ( pulang pergi) dapat diakses melalui internet seperti layaknya tiket pesawat.

Alhamdulillah sepanjang perjalanan udara sejuk, langit biru, awan putih berarak-arak, gunung-gunung hijau menjulang, pepohonan sepanjang jalan membuat rasa syukur dan takjub menggema dalam dzikir. Subhanallah wAlhamdulillah waLailahailAllah wAllahuAkbar.

Satu jam pertama masih menikmati pemandangan, tapi ternyata mata ini tidak dapat berkompromi untuk terus melihat keindahan ciptaanNYA, akhirnya tertidur juga, lumayan satu jam.. hehehe. Alhamdulillah diberikan nikmat tidur. Tak apa lah tidak liat pemandangan . Allah Maha Penyayang, sehingga kita di berikanNYA waktu untuk menikmati istirahat sejenak.

Sampai di stasiun Togendai – Hakone hujan rintik-rintik. Alhamdulillah masing- masing kita membawa payung, karena melihat di ramalan cuaca, seminggu ini kadang hujan. Alhamdulillah penginapan kami tidak jauh dari stasiun Togendai, dicapai dengan 6 menit jalan kaki (kalau jalannya cepat). Kalau hujan ya pelan – pelan takut kepleset.

Karena sampainya sudah sore, jadi hari pertama dinikmati di penginapan sambil memandang dari balik jendela indahnya danau Ashi / danau Hakone atau Ashinoko Lake/ lake Ashi/ lake Hakone, di Kanagawa Prefecture – Honshū, Jepang yang dikelilingi gunung Hakone diiringi curahan hujan yang semakin deras.

Penginapan yang kami tempati memiliki fasilitas onsen di dalam kamar (pribadi) dan ada juga yang berada di luar kamar yang menjadi ruangan berendam bersama (umum). Tidaklah lengkap bila kita berada di daerah sumber air panas tapi tidak berendam di onsen. Pastinya kami memilih kamar yang onsennya di dalam, bisa bergantian berendamnya. Membayangkan onsen bersama ditempat khuhus di lantai 1 tanpa selembar benang pun, sudah membuat merinding. Bukankah malu adalah sebagian dari Iman? Tapi bagi mereka hal ini adalah biasa dilakukan (berendam bersama tanpa sehelai benang).

Onsen adalah istilah Bahasa Jepang untuk sumber air panas dan tempat mandi berendam dengan air panas yang keluar dari perut bumi. (Onsen – Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas).

Onsen

 

Suhu di onsen hangat bahkan agak panas dan mengandung setidaknya 19 elemen yang ditentukan oleh pemerintah Jepang pada “Hukum Onsen” (hanya Jepang yang punya aturan ini) termasuk litium, sulfur, sodium klorida, dan besi. Onsen yang secara natural memenuhi kondisi ini, dengan air yang dihangatkan secara geotermal, disebut tennen onsen, atau “onsen alami,” kebalikan dari jinko-onsen , atau “onsen buatan” yang dibuat agar memenuhi kondisi peraturan onsen. Berendam di air panas ini akan memberikan rasa rileks dan santai, tapi jangan lebih dari 10 menit karena akan menimbulkan rasa pusing atau mual.

Di luar lobby penginapan, disediakan Roten-buro (noten buro) yaitu onsen luar ruangan, dimana kita bisa berendam kaki dan santai sembari menikmati keindahan alam yang mengelilingi kita. Masya Allah Tabarakallah.

Kebanyakan penginapan di daerah Hakone menyediakan makan pagi dan malam, hal ini untuk memudahkan wisatawan. Karena rumah makan atau cafe buka setelah jam 10 pagi dan kalau malam butuh kendaraan untuk ke rumah-rumah makan di luar penginapan. Pramusajinya sangat bersahabat, seperti biasa ramah dan menerangkan makanan mana yang cocok untuk Muslim dan mana yang tidak.

Togendai, selain sebagai halte bis untuk menurunkan wisatawan yang datang dari Tokyo dan sekitarnya, juga merupakan jalur lalu lintas utama yang menghubungkan Hakone Ropeway dan Hakone Sightseeing Cruise ke Moto-Hakone dan Hakone-machi di tepi selatan danau Ashi dan Kojiri di ujung utara danau tersebut.

Setelah sarapan pagi di hari berikutnya, walau hujan masih menyapa bumi, namun tidak menyurutkan langkah kami untuk melihat keindahan langsung danau Ashi atau Lake Ashinoko. Hujan itu berkahNYA bahkan saat hujan adalah saat ijabahnya doa in syaa Allah. Nikmati dan bersyukur plus hati-hati karena saya sering sekali kepleset kalau jalan di lantai yang berair. Hehehe..

Ada beberapa pilihan berwisata bila kita berada di Hakone dengan memakai jalur stasiun Togendai.

1. Sightseeing Cruise.

Melihat keindahan alam dari pelabuhan Togendai ke pelabuhan berikutnya dengan menaiki kapal pesiar.
Kapal wisata ini dirancang seperti kapal layar yang digunakan dalam pertempuran laut antara Perancis dan Britania.

Ada dua perusahaan kapal layar yang disediakan untuk mengarungi danau Ashi: Hakone Sightseeing Boats dan Izuhakone Sightseeing Boats, mengoperasikan kapal antara Moto-Hakone dan Hakone-machi di tepi selatan danau itu, sementara Togendai dan Kojiri di ujung utara danau tersebut. Pelayaran kapal dari satu ujung danau ke danau lainnya memakan waktu kira-kira 30 menit dan menghabiskan biaya 1.000 ¥ sekali jalan atau 1840 ¥ kalau PP. Setelah kapal wisata bergerak melaju, terdengarlah penjelasan dan informasi tentang Danau Ashi (Ashinoko lake) dalam Bahasa Ingris dan Bahasa Jepang.

Danau Ashinoko terbentuk di kaldera Gunung Hakone dengan luas 7,1 km2 dan ketinggian permukaan 723m setelah letusan terakhir gunung berapi 3000 tahun yang lalu. Hari ini, danau dengan Gunung Fuji sebagai latar belakang adalah simbol Hakone  menjadi bagian dari Taman Nasional Fuji- Hakone- Izu. Tepi danau sebagian besar tidak berkembang kecuali kota-kota kecil di timur dan utara dan beberapa resort di tepi danau.

Ashinoko Lake

Pemandangan danau yang indah akan lebih bagus lagi bila cuaca cerah dan Gunung Fuji dapat terlihat jelas dari Moto-Hakone. Sayangnya saat kami mengarungi danau, cuaca kurang cerah sehingga gunung Fuji hanya tampak samar. Di pelabuhan berikutnya terdapat toko-toko souvenir dan rumah-rumah makan, penumpang boleh turun dan kembali dengan kapal-kapal berikutnya, sampai jadwal terakhir pelayaran yang ditutup jam 5 sore.

2. Hakone Ropeway (kereta gantung).

Hakone Ropeway adalah tempat yang tepat untuk menikmati pemandangan panorama Hakone dati atas kereta gantung. Pada hari yang cerah, Gunung Fuji yang cantik akan terlihat, dan akan terlihat uap yang naik dari vulkanik “Jigokudani” di Owakudani, Danau Ashi yang spektakuler juga pepohonan yang berwarna warni daunnya tampak di bawah, memberi sensasi tambahan di dalam perjalanan di atas kereta gantung. Pada musim gugur, pemandangan danau ini sangat luar biasa, dengan pohon-pohon yang daunnya menyala berwarna merah dan kuning. Karena Oktober baru permulaan musim gugur, jadi belum semua daun berubah warnanya.

Hakone Ropeway

Ada tiga stasiun untuk pemberhentian kereta gantung, stasiun Ubako , Owakudani dan Sounzan. Kami turun di stasiun ke dua, stasiun Owakudani. Di tempat ini tampak uap-uap belerang berbaur dengan udara. Selain ada Hakone Geo museum yang menceritakan tentang vulkanik gunung-gunung Hakone dan sumber air panas, ada juga toko-toko souvenir dan rumah-rumah makan.

Hakone Geo museum

3. Bis (jalan kaki) untuk mengunjungi berbagai museum dam sightseeing sepanjang / keliling danau.

Cuaca kadang cerah dan kadang hujan dengan udara dingin sekitar 6° Celcius membuat perut cepat lapar dan semangkuk sup panas sangat nikmat untuk menghangatkan tubuh yang kedinginan. Sambil memandang Shrine gate yang berwarna merah dari jendela cafe.

Hakone shrine gate

Dengan menggunakan jalur yang sama, kami kembali dari stasiun Owakadani ke stasiun Togendai untuk kembali ke penginapan.

Stasiun Owakadani

Alhamdulillah untuk hari ini dan hari-hari selanjutnya, pengalaman wisata sekecil apapun tentu akan memberikan efek positif terhadap diri kita, terutama rasa syukur tak terhingga kepadaNYA.

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلا تَكْفُرُونِ (البقرة : 152)

Ingatlah kepada-Ku niscaya Aku mengingatmu, dan bersyukurlah kepada-Ku, janganlah kamu sekalian kufur”.

Qathrun Nada Djamil

Setelah menyelesaikan S1 nya di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Qathrun Nada Djamil menetap di Jeddah-Saudi Arabia bersama suami, 3 orang putra dan seorang putrinya. Kemudian menyelesaikan diploma Business English di Business Training Limited –England. Membaca adalah hobbynya dan mulai menulis secara otodidak di note Face Book kemudian bergabung dengan aMuslima.com pada tahun 2011. Awal tahun 2015 Qathrun Nada Djamil menjadi salah satu editor buku Apa judul buku ini karya Tupon Dj.

Related Posts